Kamis, 4 Juni 2026

Awas Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Ganggu Irama Jantung, Risiko Meningkat Seiring Usia

Atrial fibrilasi merupakan gangguan irama jantung paling banyak ditemukan di dunia, termasuk Indonesia.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata

Ringkasan Berita:
  • Dalam kondisi normal, jantung memiliki “baterai” alami yang menjaga detak tetap teratur selama 24 jam. Namun berbagai faktor gaya hidup dapat mengganggu sistem ini
  • Tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, hingga gangguan tidur seperti mendengkur berat mempercepat munculnya atrial fibrilasi
  • Sayangnya, banyak orang menganggap jantung berdebar dan mudah lelah sebagai bagian wajar dari penuaan

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gaya hidup modern yang serba cepat ternyata membawa konsekuensi serius bagi kesehatan jantung

Tanpa disadari, kebiasaan sehari-hari dapat mempercepat munculnya gangguan irama jantung yang dikenal sebagai atrial fibrilasi.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang berpraktik di Eka Hospital BSD, dr. Ignatius Yansen Ng, Sp.JP (K), FIHA, FAsCC, FAPSC menjelaskan bahwa atrial fibrilasi merupakan gangguan irama jantung paling banyak ditemukan di dunia, termasuk Indonesia.

“Gangguan irama yang paling banyak itu adalah atrial fibrilasi, di mana gangguan ini menyebabkan jantung kita tidak beraturan,” ujarnya pada acara Launching and Health Talk Atrial Fibrilation di Eka Hospital MT Haryono, Jumat (13/2/2026). 

Dalam kondisi normal, jantung memiliki “baterai” alami yang menjaga detak tetap teratur selama 24 jam. 

Namun berbagai faktor gaya hidup dapat mengganggu sistem ini. 

Tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok, hingga gangguan tidur seperti mendengkur berat mempercepat munculnya atrial fibrilasi.

Seiring bertambahnya usia, risiko kondisi ini semakin meningkat. 

Baca juga: Bukan Sekadar Berdebar, Gangguan Irama Jantung Tingkatkan Risiko Stroke hingga 6 Kali Lipat

Pada kelompok usia di atas 80 tahun, angka kejadiannya bisa mencapai 15–20 persen. 

Sayangnya, banyak orang menganggap jantung berdebar dan mudah lelah sebagai bagian wajar dari penuaan.

Padahal, penanganan atrial fibrilasi tidak hanya bergantung pada tindakan medis, tetapi juga perubahan gaya hidup. 

Pendekatan modern menekankan manajemen faktor risiko secara menyeluruh, mulai dari pengendalian tekanan darah dan gula darah hingga penurunan berat badan.

Dr. Ignatius menegaskan bahwa perawatan atrial fibrilasi bersifat integratif. 

Pasien dengan diabetes perlu pengelolaan gula darah yang baik, pasien obesitas dianjurkan menurunkan berat badan, dan gangguan tidur harus ditangani secara khusus.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved