Mengenal Penanganan Varises: Dari Operasi Terbuka ke Metode Minimal Invasif
Penanganan varises kini semakin bergeser dari operasi terbuka menuju metode minimal invasif berbasis teknologi laser.
Ringkasan Berita:
- Penanganan varises kini beralih dari operasi terbuka ke teknik laser minimal invasif yang lebih presisi, minim trauma, dan mempercepat pemulihan
- Terapi tetap disesuaikan tingkat keparahan, dengan langkah konservatif sebagai tahap awal
- Pendekatan minimal invasif menjadi arah pengembangan terapi vaskular di berbagai negara karena lebih efisien
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penanganan varises kini semakin bergeser dari operasi terbuka menuju metode minimal invasif berbasis teknologi laser.
Perkembangan ini sejalan dengan tren global di bidang bedah vaskular yang mengutamakan presisi, trauma jaringan yang lebih kecil, serta waktu pemulihan yang lebih cepat.
Baca juga: Varises Bukan Sekadar Masalah Penampilan, Risikonya Berkaitan dengan Penyakit Jantung?
Meski demikian, dokter spesialis bedah vaskular dr. Harsya Dwindaru Gunardi, Sp.B, Subsp. BVE(K), menegaskan bahwa tidak semua kasus varises harus langsung ditangani dengan tindakan invasif.
Pada tahap awal, terapi konservatif tetap menjadi fondasi utama. Pendekatan ini meliputi perubahan gaya hidup, pengendalian berat badan, olahraga teratur, serta penggunaan stoking kompresi.
“Pemilihan terapi harus berdasarkan derajat keparahan dan hasil pemeriksaan medis yang komprehensif,” ujarnya dalam workshop bertajuk Efisiensi dan Presisi Penanganan Varises dengan Laser di Jakarta, Minggu (15/2/2026).
Varises merupakan pelebaran vena akibat gangguan katup pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah tidak optimal, terutama di tungkai. Gejalanya dapat berupa nyeri, pembengkakan, rasa berat pada kaki, hingga perubahan warna kulit.
Pada kondisi lanjut, varises bahkan dapat menimbulkan luka kronis (ulkus) yang sulit sembuh dan berisiko menyebabkan komplikasi.
Dalam forum tersebut dibahas metode Endovenous Laser Ablation (EVLA), yakni teknik penutupan vena bermasalah menggunakan energi laser melalui sayatan kecil.
Prosedur ini dinilai sebagai inovasi karena tidak memerlukan sayatan besar seperti operasi konvensional.
“Metode ini memungkinkan tindakan minimal invasif dengan nyeri lebih ringan, tanpa pembiusan total, serta waktu prosedur relatif singkat, rata-rata 30–60 menit,” jelas Harsya.
Sebagian besar pasien bahkan dapat kembali beraktivitas ringan setelah tindakan tanpa perlu rawat inap.
Meski demikian, evaluasi menyeluruh tetap diperlukan untuk memastikan prosedur dilakukan sesuai indikasi medis.