Minggu, 26 April 2026

Hiperpigmentasi Rentan Terjadi di Iklim Tropis, Kulit Wajah Perlu Penanganan Tepat

Masyarakat di wilayah tropis seperti Indonesia lebih berisiko mengalami hiperpigmentasi akibat paparan sinar matahari dan faktor hormonal.

Penulis: Erik S
Editor: Choirul Arifin
HO/IST/dok.
HIPERPIGMENTASI KULIT - Masyarakat yang tinggal di wilayah tropis, termasuk Indonesia, memiliki risiko lebih tinggi mengalami hiperpigmentasi pada kulit wajah. 
Ringkasan Berita:
  • Kajian dermatologi menyebutkan masyarakat di wilayah tropis seperti Indonesia lebih berisiko mengalami hiperpigmentasi akibat paparan sinar matahari dan faktor hormonal.
  • Dokter Lanny Juniarti, menegaskan penanganan harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi kulit tiap individu.
  • Terapi dapat meliputi peeling, laser, hingga perawatan topikal, disertai perlindungan dari sinar matahari dan konsultasi medis.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kajian dermatologi menunjukkan, masyarakat yang tinggal di wilayah tropis, termasuk Indonesia, memiliki risiko lebih tinggi mengalami hiperpigmentasi. 

Kondisi hiperpigmentasi ditandai munculnya bercak gelap atau warna kulit tidak merata akibat produksi melanin berlebih, yang dipicu paparan sinar ultraviolet, perubahan hormonal, proses inflamasi, hingga bekas luka atau jerawat.

Dokter estetika dari Miracle Aesthetic Clinic, dr. Lanny Juniarti, menjelaskan, penanganan hiperpigmentasi perlu disesuaikan dengan penyebab dan karakteristik kulit каждого individu.

“Setiap kasus berbeda, sehingga perlu analisis terlebih dahulu sebelum menentukan jenis terapi yang tepat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (19/2/2026).

Secara umum, hiperpigmentasi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain warna kulit tidak merata akibat paparan matahari, bekas jerawat atau luka (post-inflammatory hyperpigmentation/PIH), serta melasma yang sering dipengaruhi faktor hormonal dan penuaan.

Selain itu, peradangan jerawat juga dapat menimbulkan kemerahan akibat kerusakan pembuluh darah kecil di kulit.

Dalam praktik medis, terapi yang digunakan biasanya meliputi tindakan peeling kimia untuk membantu regenerasi sel kulit, penggunaan teknologi laser atau energi cahaya untuk menargetkan pigmen berlebih, serta kombinasi radiofrekuensi dan microneedling pada kasus tertentu seperti melasma.

Baca juga: Kenali Beda Penuaan Dini Vs Alami pada Kulit: Tips dari Dermatologis

Beberapa terapi tambahan juga dapat diberikan untuk membantu menstabilkan produksi melanin dan memperbaiki tekstur kulit.

Menurut dr. Lanny, selain tindakan di klinik, penggunaan perawatan topikal yang mengandung bahan seperti tranexamic acid, niacinamide, atau kojic acid juga kerap direkomendasikan untuk membantu meratakan warna kulit dan menjaga hasil terapi.

Baca juga: Mengapa Pendekatan Dermatologis Makin Populer Atasi Jerawat?

Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap sinar matahari serta konsultasi dengan tenaga medis profesional sebelum menjalani prosedur tertentu.

Hiperpigmentasi memang tidak berbahaya secara medis, namun dapat memengaruhi rasa percaya diri. Karena itu, pendekatan yang menyeluruh dan sesuai kondisi kulit dinilai penting agar hasil perawatan optimal sekaligus tetap aman bagi pasien.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved