Banyak Pasien Datang di Stadium Lanjut, Ini Tantangan Keterlambatan Diagnosis Kanker Ginekologi
Tumor pada kanker ginekologi tidak hanya berukuran lebih besar, tapi sering kali telah menyebar pada organ-organ lain di sekitar panggul.
Ringkasan Berita:
- Keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan utama penanganan kanker ginekologi di Indonesia
- Banyak pasien datang saat kanker sudah stadium lanjut sehingga operasi lebih kompleks karena tumor kerap menyebar ke organ lain
- Dokter menekankan pentingnya deteksi dini, kolaborasi multidisiplin, teknologi laparoskopi, serta pemantauan jangka panjang untuk meningkatkan peluang kesembuhan dan kualitas hidup pasien
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan besar dalam penanganan kanker ginekologi di Indonesia.
Kondisi ini membuat banyak pasien baru mencari pertolongan medis saat penyakit telah berkembang ke stadium lanjut, sehingga penanganannya menjadi jauh lebih kompleks.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari Brawijaya Hospital Antasari, dr. Med. Firman Santoso, SpOG, mengatakan sebagian besar pasien datang ketika gejala yang dirasakan sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Akibatnya, tumor yang ditemukan tidak hanya berukuran lebih besar, tetapi juga sering kali telah menyebar atau menempel pada organ-organ lain di sekitar panggul.
Baca juga: Dokter Spesialis Ginekologi: Infeksi HPV Sering Tanpa Gejala, Skrining Jadi Kunci Pencegahan
"Sebagian besar pasien datang ketika keluhan sudah berat. Saat diperiksa, tumornya sering kali sudah menempel ke berbagai organ sehingga tindakan operasinya menjadi lebih sulit," ujar Firman kepada wartawan usai Brawijaya Hospital Partner Gathering di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Kanker ginekologi merupakan kelompok kanker yang menyerang organ reproduksi wanita.
Jenisnya meliputi kanker serviks atau leher rahim, kanker ovarium (indung telur), kanker rahim atau endometrium, kanker vagina, serta kanker vulva yang menyerang bagian luar alat reproduksi wanita.
Menurut Firman, banyak gangguan ginekologi, termasuk kanker pada organ reproduksi wanita, tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi kelainan sedini mungkin dan meningkatkan peluang keberhasilan terapi.
Ia menjelaskan, perlengketan tumor dengan organ lain seperti usus, kandung kemih, maupun jaringan di sekitar panggul menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengobatan.
Selain meningkatkan tingkat kesulitan operasi, kondisi tersebut juga dapat memperbesar risiko komplikasi apabila tidak ditangani secara tepat.
Firman menilai kondisi di Indonesia berbeda dengan sejumlah negara maju yang memiliki tingkat kesadaran deteksi dini lebih tinggi.
Di negara-negara tersebut, pasien umumnya memeriksakan diri lebih cepat sehingga kasus dengan perlengketan berat relatif lebih jarang ditemukan.
"Di Indonesia banyak pasien datang setelah tumor berkembang cukup lama. Ketika diperiksa, kondisinya sudah kompleks karena tumor menempel ke berbagai organ di sekitarnya," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Firman-Santoso-1-11062026.jpg)