Minggu, 26 April 2026

Beban Kanker Indonesia Kian Berat, AI Percepat Identifikasi HER2 dan Skrining Paru

Jumlah kasus kanker diprediksi melonjak lebih dari 70 persen pada 2050. Kondisi tersebut mendorong pemanfaatan teknologi untuk perkuat diagnosis.

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com/Aisyah Nursyamsi
SKRINING KANKER SERVIKS- Wakil Menteri kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, integrasi ini sebagai upaya mempercepat deteksi dini dan menurunkan angka keterlambatan penanganan kanker serviks. Dante menegaskan, mulai 2026, skrining kanker leher rahim dalam CKG akan disertai dengan tindak lanjut yang jelas bagi hasil skrining positif. 

Selain kanker payudara, kanker paru juga menjadi perhatian. Berdasarkan data GLOBOCAN 2020, kanker paru menempati urutan ketiga sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru terbanyak di Indonesia.

Kanker paru umumnya ditandai dengan nodul atau benjolan yang tumbuh tidak terkendali. 

Namun, tidak semua nodul bersifat ganas. Karena itu, akurasi skrining menjadi krusial agar pasien yang berisiko tinggi dapat segera menjalani pemeriksaan lanjutan.

“Dalam pemeriksaan foto toraks, sistem berbasis AI dapat membantu menandai area yang dicurigai sebagai nodul paru yang memerlukan evaluasi lanjutan melalui pemeriksaan CT scan untuk karakterisasi yang lebih detail,"

Deteksi ini memungkinkan pasien diarahkan lebih cepat dan tepat untuk pemeriksaan lanjutan,” jelas dokter spesialis radiologi dr. Dewi Tantra Hardiyanto, Sp.Rad. 

Sistem berbasis AI tersebut juga dilengkapi penilaian tervalidasi untuk membedakan nodul berisiko tinggi dan rendah, sehingga membantu dokter dalam proses skrining awal.

AI sebagai Pendamping, Bukan Pengganti Dokter

Peningkatan kasus kanker menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi, terutama dalam memastikan diagnosis yang tepat waktu dan akurat.

“Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) menjadi langkah strategis untuk mendukung tenaga medis dalam mempercepat proses diagnostik, meningkatkan akurasi interpretasi klinis, serta memperkuat pengambilan keputusan berbasis data,” kata dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia.

Teknologi AI dalam konteks ini diposisikan sebagai pendamping tenaga medis, bukan pengganti. 

Keputusan klinis tetap berada di tangan dokter yang mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.

Dengan beban kanker yang terus meningkat, penguatan skrining dan diagnosis menjadi kunci. 

Teknologi mungkin bukan jawaban tunggal, tetapi bisa menjadi alat bantu penting agar lebih banyak pasien mendapatkan penanganan lebih cepat sebelum penyakit berkembang ke stadium lanjut.
 

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved