Remaja Jakarta 5 Kali Lebih Empati Usai Laporkan Kebaikan Teman
Dalam 10 hari terkumpul 4.710 laporan kebaikan. Delapan dari sepuluh siswa merasakan perubahan positif
Ringkasan Berita:
- Di Jakarta, program CekTemanSebelah 2.0 dari Health Collaborative Center mengajak siswa rutin melaporkan kebaikan teman selama 10 hari.
- Kebiasaan sederhana ini memicu efek berantai apresiasi di sekolah
- Hasilnya, empati dan kepedulian meningkat hingga lima kali, membuat suasana kelas lebih hangat dan suportif
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah obrolan soal remaja yang dianggap mudah stres dan rentan masalah mental, kabar segar datang dari Jakarta.
Bukan soal gawai baru atau tren media sosial, melainkan kebiasaan sederhana: saling melaporkan kebaikan teman.
Hasilnya mengejutkan—empati dan kepedulian sosial meningkat drastis hanya dalam hitungan hari.
Program CekTemanSebelah 2.0: 'Laporkan Kebaikan Teman' yang digagas Health Collaborative Center (HCC) mengajak siswa membangun budaya apresiasi lewat metode tootling—mencatat dan mengakui tindakan baik teman setiap hari.
Praktik kecil, tapi dampaknya terasa besar di keseharian sekolah.
Ketua tim eksperimen, Ray Wagiu Basrowi menjelaskan, program ini diikuti 699 siswa SMA, dengan 541 siswa menuntaskan tantangan 10 hari penuh.
Hasilnya seperti glow up emosional massal yakni remaja yang aktif melaporkan kebaikan menjadi 5 kali lebih empatik, 5 kali lebih prososial, dan hampir 4 kali lebih mampu memahami sudut pandang orang lain.
“Dalam 10 hari terkumpul 4.710 laporan kebaikan. Delapan dari sepuluh siswa merasakan perubahan positif. Bahkan pelapor aktif punya peluang 11 kali lebih besar merasakannya,” kata Ray dalam paparannya di Jakarta, Selasa (2/3/2026).
Dari hal kecil, efeknya menular
Menariknya, alasan siswa melaporkan kebaikan terasa sangat personal dan hangat.
Sebanyak 77 persen ingin mengucapkan terima kasih, 71 persen sebagai apresiasi, separuhnya untuk membalas kebaikan, sementara lainnya ingin menginspirasi teman atau sekadar membuat hal baik lebih terlihat.
Artinya, remaja sebenarnya punya dorongan alami untuk peduli—mereka hanya butuh ruang untuk mengekspresikannya.
Ada pula dinamika unik: siswi perempuan tercatat 34 kali lebih sering mengapresiasi sesama perempuan.
"Fenomena ini menunjukkan kedekatan sosial berperan besar dalam membangun budaya saling dukung," kata Ray.
Baca juga: Cak Imin Soroti Kasus Bunuh Diri Anak: Kesehatan Mental Jadi Agenda Strategis Nasional
Ray menambahkan dampaknya bukan cuma angka statistik tapi berdampak suasana sekolah ikut berubah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KEPEDULIAN-MENINGKAT-Ketua-tim-eksperimen-Program-CekTemanSebelah.jpg)