Kamis, 9 April 2026

Banyak yang Belum Tahu, Deteksi Dini Kanker Paru Bisa di RS Tipe C Lewat Puskesmas

Deteksi dini kanker paru ternyata bisa di RS tipe C lewat rujukan puskesmas, tak harus ke rumah sakit besar

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
freepik
ILUSTRASI KANKER PARU - Banyak masyarakat mengira deteksi dini kanker paru harus dilakukan di rumah sakit besar dengan alat canggih dan biaya mahal.  Padahal, pemeriksaan skrining justru bisa dilakukan di rumah sakit tipe C melalui rujukan berjenjang dari puskesmas 

Ringkasan Berita:
  • Dokter paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia menyebut deteksi dini kanker paru bisa dilakukan di RS tipe C melalui rujukan puskesmas 
  • Metode yang dianjurkan adalah CT scan toraks dosis rendah tanpa kontras, terutama bagi kelompok berisiko tinggi 
  • Skrining ini penting karena kanker paru kerap tanpa gejala dan sering terlambat terdiagnosis.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak masyarakat mengira deteksi dini kanker paru harus dilakukan di rumah sakit besar dengan alat canggih dan biaya mahal. 

Padahal, pemeriksaan skrining justru bisa dilakukan di rumah sakit tipe C melalui rujukan berjenjang dari puskesmas.

Informasi ini disampaikan dokter spesialis paru konsultan onkologi, dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P(K).

Menurut anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tersebut, metode deteksi dini kanker paru yang direkomendasikan bukan rontgen biasa, melainkan CT scan toraks dosis rendah tanpa kontras.

“Jadi itu bisa dilakukan di rumah sakit rumah sakit tipe C, itu biasanya ada CT toraks (scan dada), jadi melalui rujukan berjenjang dari puskesmas, layanan primer ke rumah sakit tipe C untuk deteksi dini kanker paru,"ungkapnya pada awak media di bilangan Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Baca juga: Rambu-rambu Dokter untuk Pasien Kanker Paru yang Puasa, Syarat, Waktu Minum Obat & Tanda Harus Batal

Artinya, akses skrining sebenarnya lebih dekat dari yang dibayangkan. 

Selama ini, banyak orang menunggu gejala muncul atau merasa harus langsung ke rumah sakit rujukan nasional, padahal sistemnya sudah dirancang bertahap.

Sita menjelaskan, skrining ini terutama dianjurkan bagi kelompok berisiko tinggi, mengingat kanker paru sering kali tidak menunjukkan tanda di tahap awal.

“Kebanyakan tidak ada gejala sehingga pada yang risiko tinggi kami anjurkan untuk screening kanker paru,"imbuhnya. 

Inilah informasi penting yang belum banyak diketahui masyarakat: kanker paru kerap datang tanpa sinyal jelas. 

Berbeda dengan kanker payudara yang kampanye deteksinya masif dan mudah diakses, kanker paru justru sering terlambat ditemukan karena pasien merasa baik-baik saja.

Saat ini, pedoman nasional untuk skrining kanker paru masih dalam pembahasan dalam kerangka Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK). 

Namun advokasi terus dilakukan, mengingat tingginya prevalensi rokok di Indonesia yang meningkatkan risiko penyakit ini.

Selain mendorong skrining berbasis rujukan, PDPI juga mengembangkan kuesioner risiko kanker paru untuk membantu masyarakat menilai tingkat risikonya, apakah ringan, sedang, atau berat, sebelum datang ke layanan primer.

Dengan informasi ini, masyarakat diharapkan tak lagi menunda pemeriksaan hanya karena merasa akses sulit. 

Deteksi dini kanker paru bukan soal menunggu sakit, tetapi mengenali risiko dan memanfaatkan layanan yang sebenarnya sudah tersedia lebih dekat dari yang dibayangkan.
 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved