Terlambat Sadar Terpukul oleh Diagnosis Kusta, Pasti Sembuh dan Tak Akan Menular
Pentingnya deteksi dini bercak di cuping telinga gejala Kusta, 90 persen tak menular jika minum obat MDT
Pentingnya deteksi dini bercak di cuping telinga gejala Kusta, 90 persen tak menular jika minum obat MDT
TRIBUNNEWS.COM - Kala itu siang bolong pada medio 2022, TA bercermin menyadari ada yang berbeda dari wajah dan telinganya.
Namun, ia sama sekali tak menaruh curiga tentang bercak berwarna putih kemerahan menyebar.
“Saya kira cuma alergi atau penyakit kulit biasa,” ujar warga Magetan itu diwawancarai pada Jumat, 27 Februari 2026.
Selama kurang lebih lima bulan, ia membiarkan bercak tersebut tanpa pemeriksaan lanjutan.
Akibatnya, tangan dan kaki TA kerap merasa kebas.
Untuk berjalan saja susah karena sakit.
Hingga akhirnya ia memutuskan memeriksakan diri ke rumah sakit, saat itu juga dokter menyatakan TA mengidap kusta.
Pertanyaan besar muncul dalam benak TA. Kok bisa? Dari mana? Tertular siapa?
Dalam batinnya, orang-orang mengenal kusta sebagai penyakit langka, ada yang bilang kutukan, ada juga yang bilang keturunan.
Padahal kusta atau dikenal sebagai penyakit Hansen, adalah infeksi kronis menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae.
Menurut WHO, penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi, dan mukosa, menyebabkan bercak mati rasa, kecacatan jika tidak diobati.
Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dengan jumlah kasus kusta terbanyak, setelah India dan Brasil.
Berdasarkan data, Indonesia masih menghadapi beban penyakit yang tinggi dengan prevalensi 0,71 per 10.000 penduduk pada 2023, di mana penularan masih terus terjadi di beberapa wilayah.
“Saya kaget dan nggak percaya, takut, karena saya pikir itu penyakit langka dan nggak ada obatnya,” keluhnya saat itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pelayanan-penderita-kusta-pasien-bpjs_20230725_185838.jpg)