Dokter Peringatkan 'Golden Time' Stroke Hanya 4,5 Jam, Lewat dari Itu Risiko Lumpuh Permanen
Tidak sedikit pula pasien yang justru lebih dulu dibawa untuk dipijat atau diurut sebelum mendapatkan penanganan medis dari dokter atau dari perawat..
Ringkasan Berita:
- Semakin cepat pasien datang ke rumah sakit, semakin besar peluang fungsi otak dapat diselamatkan
- Masyarakat diminta tidak lagi menunda pemeriksaan medis ketika menemukan gejala stroke sekecil apa pun
- Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain wajah mendadak mencong, tubuh lemah sebelah, bicara pelo atau sulit berbicara, penglihatan kabur mendadak, sakit kepala hebat, hingga tubuh terasa sempoyongan atau kehilangan keseimbangan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak pasien stroke di Indonesia masih datang terlambat ke rumah sakit karena keluarga kerap menganggap gejala awal yang muncul hanyalah kelelahan biasa, masuk angin, atau gangguan sementara yang bisa membaik sendiri.
Baca juga: Kemenkes Awasi Minuman Manis, Label Nutri-Level Disebut Bisa Tekan Risiko Stroke hingga Gagal Ginjal
Tidak sedikit pula pasien yang justru lebih dulu dibawa untuk dipijat atau diurut sebelum mendapatkan penanganan medis. Padahal dalam kasus stroke, keterlambatan beberapa jam saja dapat menyebabkan kerusakan otak permanen hingga meningkatkan risiko kecacatan berat bahkan kematian.
Dokter Spesialis Neurologi RS Pondok Indah dr. Andre menegaskan bahwa penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan pasien mendapatkan pertolongan medis di rumah sakit. Menurutnya, setiap menit sangat berharga karena sel-sel otak mulai mengalami kerusakan saat aliran darah terganggu.
“Time is brain,” tegasnya dalam media briefing di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (13/5/2026).
Dr. Andre menjelaskan bahwa ketika stroke terjadi, aliran darah menuju otak tersumbat atau terganggu sehingga pasokan oksigen dan nutrisi ke jaringan otak ikut terhenti. Kondisi tersebut membuat sel-sel otak mulai mati secara perlahan.
Namun pada beberapa jam pertama, masih terdapat jaringan otak yang sebenarnya belum mengalami kematian total dan masih bisa diselamatkan apabila pasien segera mendapatkan terapi yang tepat.
“Yang hijau itu daerah yang sudah mulai terganggu tapi belum mati,” jelasnya saat memaparkan ilustrasi kondisi otak pasien stroke.
Karena itu, dunia medis mengenal istilah golden time atau masa emas penanganan stroke, yakni kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama muncul. Pada periode tersebut, pasien masih memiliki peluang besar untuk mendapatkan terapi penghancur sumbatan pembuluh darah agar aliran darah ke otak kembali normal.
“Pengobatan yang terbaik itu bermain di bawah 4,5 jam,” kata dr. Andre.
Ia menyayangkan masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya masa emas tersebut. Akibatnya, pasien sering kali terlambat tiba di rumah sakit karena memilih menunggu kondisi membaik sendiri atau mencoba pengobatan alternatif terlebih dahulu.
Padahal stroke dapat berkembang sangat cepat dan menimbulkan dampak serius dalam waktu singkat, mulai dari kelumpuhan permanen, gangguan bicara, penurunan fungsi otak, hingga kehilangan kemampuan beraktivitas secara mandiri.
Baca juga: Kenali Gejala Stroke Sejak Dini, Risiko Kematian dan Disabilitas Bisa Dikurangi
Menurut dr. Andre, stroke tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi kini juga mulai banyak ditemukan pada usia produktif dan anak muda. Penyakit ini disebut dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia, suku, maupun latar belakang sosial.
“Stroke bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan siapa saja,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal stroke sedini mungkin. Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain wajah mendadak mencong, tubuh lemah sebelah, bicara pelo atau sulit berbicara, penglihatan kabur mendadak, sakit kepala hebat, hingga tubuh terasa sempoyongan atau kehilangan keseimbangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-STROKE-Gambar-ini-dibuat-menggunakan-AI.jpg)