Kamis, 16 April 2026

Dari Marathoner ke Penyintas Stroke, Iwet Ramadhan Ingatkan Pentingnya Cek Tensi

Iwet kini berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit jantung dan stroke di Indonesia.

|
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
Tribunnews.com/Eko Sutriyanto
Presenter Iwet Ramadhan saat acara Let’s Check the Beat, Kenali Aritmia dan Sadari Pentingnya Deteksi Aritmia Sejak Dini di Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan, Kamis (5/3/2026). Iwet mengalami sakit kepala selama hampir empat minggu sebelum akhirnya didiagnosis mengalami stroke akibat perdarahan pada lapisan otak. 
Ringkasan Berita:
  • Iwet Ramadhan membagikan pengalaman usai mengalami stroke pada 2023 yang mengubah cara pandangnya tentang kesehatan
  • Meski aktif maraton seperti New York City Marathon, ia tak menyadari memiliki hipertensi dan risiko aritmia
  • Kini ia mengajak masyarakat rutin cek tekanan darah dan waspada faktor risiko sejak muda.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA –  Presenter sekaligus desainer ternama, Iwet Ramadhan, membagikan pengalaman hidup yang mengubah cara pandangnya terhadap kesehatan.

Berawal dari stroke yang dialaminya pada Januari 2023, Iwet kini berkomitmen meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit jantung dan stroke di Indonesia.

“Janji saya setelah keluar rumah sakit waktu itu adalah ingin lebih banyak mengedukasi tentang penyakit jantung dan stroke. Karena saya sendiri tidak sadar punya hipertensi,” ujar Iwet saat acara Let’s Check the Beat, Kenali Aritmia dan Sadari Pentingnya Deteksi Aritmia Sejak Dini di Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan, Kamis (5/3/2026).

Program ini bertujuan mengajak masyarakat mengenali aritmia, memahami faktor risikonya, serta melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan EKG.

Sebelum terkena stroke, Iwet merasa dirinya dalam kondisi prima.

Ia telah menuntaskan tiga ajang maraton internasional, termasuk New York City Marathon dan Berlin Marathon, serta aktif berlatih triathlon untuk persiapan Ironman.

“42 kilometer saya lari. Masa saya sakit? Itu pikiran saya waktu itu,” katanya.

Ia mengaku tidak memiliki kebiasaan buruk seperti pola makan sembarangan atau emosi berlebihan.

Namun, ada satu hal yang luput dari perhatiannya: kualitas tidur dan tingkat stres yang tinggi, terutama selama masa pandemi COVID-19.

Kurang tidur, tekanan kerja, serta stres berkepanjangan menjadi kombinasi berbahaya.

Iwet mengalami sakit kepala selama hampir empat minggu sebelum akhirnya didiagnosis mengalami stroke akibat perdarahan pada lapisan otak.

Operasi Besar dan Titik Balik Kehidupan

Kondisinya saat itu mengharuskannya menjalani tindakan operasi segera.

Ia bahkan memutuskan untuk mencukur habis rambutnya sebagai simbol titik balik dalam hidupnya.

“Itu pengingat buat saya, bahwa ada satu momen dalam hidup yang benar-benar mengubah segalanya,” ungkapnya.

Pengalaman tersebut membuka matanya bahwa merasa bugar bukan berarti bebas dari risiko penyakit kardiovaskular.

Ia menekankan pentingnya medical check-up rutin, terutama pengecekan tekanan darah.

Mengacu pada data medis yang ia pelajari, sekitar 30 persen masyarakat Indonesia memiliki hipertensi, yang menjadi salah satu faktor risiko utama stroke.

Baca juga: Kasus Fibrilasi Atrium Melonjak, Deteksi Dini Bisa Selamatkan dari Stroke

Stroke Bisa Berulang, Waspadai Aritmia

Iwet sempat berpikir bahwa stroke hanya terjadi sekali.

Namun ia kemudian memahami bahwa stroke bisa berulang, terutama jika faktor pemicu tidak ditangani dengan baik.

Salah satu kondisi yang ia pelajari adalah aritmia, khususnya atrial fibrilasi (AFib), yaitu gangguan irama jantung yang tidak teratur dan dapat meningkatkan risiko stroke.

“Stroke itu bisa dipicu oleh irama jantung yang tidak teratur. Jadi bukan cuma soal tekanan darah,” jelasnya.

Sejak saat itu, ia disiplin menjaga pola hidup. Ia memastikan tidur maksimal pukul 22.00, rutin berolahraga, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, termasuk cek tekanan darah dan denyut nadi.

Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Merasa Kebal

Iwet juga memberi pesan tegas kepada generasi muda yang merasa masih kuat dan kebal penyakit.

“Jangan tunggu usia 40 tahun untuk cek tensi. Umur 20-an juga harus cek. Gaya hidup sekarang itu berat, kurang tidur, stres, konsumsi kopi berlebihan, rokok elektronik. Itu semua risiko,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa kurang tidur dan stres kronis dapat menjadi “silent killer” yang tidak disadari.

Kenali Diri, Cek Rutin, dan Akses Layanan Tepat

Menurut Iwet, ada tiga langkah penting untuk mencegah risiko stroke yakni kenali diri sendiri dan riwayat keluarga, terutama jika ada anggota keluarga dengan penyakit jantung.

Kemudian lakukan pemeriksaan rutin, minimal cek tekanan darah dan denyut nadi dan segera periksa ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan stroke dan aritmia, terutama bagi yang memiliki faktor risiko atau pernah mengalami stroke.

Baca juga: Usia Muda Harus Waspada, Kini Stroke Tidak Hanya Menyerang Orang Tua

“Kalau ada risiko, jangan tunggu. Screening itu penting. Kalau sudah pernah stroke, pemeriksaannya lebih detail lagi,” tegasnya.

Kini, pengalaman pahit tersebut justru menjadi misi hidup baru bagi Iwet Ramadhan: menyebarkan kesadaran bahwa kesehatan jantung dan pembuluh darah adalah investasi jangka panjang.

“Merasa sehat belum tentu benar-benar sehat. Cek tensi itu sederhana, tapi bisa menyelamatkan nyawa,” katanya.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved