Minggu, 19 April 2026

Pemerintah Percepat Penanganan TB, Vaksin Ditargetkan Tersedia 2029

Pemerintah Indonesia tegaskan percepatan eliminasi tuberkulosis (TB) sebagai langkah darurat nasional.

Penulis: Lanny Latifah
Editor: Sri Juliati
Tribunnews/Jeprima
ILUSTRASI VAKSINASI - Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin HPV kepada peserta dalam acara Bersama PEDULI PEREMPUAN: Vaksinasi HPV Gratis dan Sosialisasi Kesehatan di Jakarta, Minggu (4/5/2025). Pemerintah Indonesia menegaskan percepatan eliminasi tuberkulosis (TB) sebagai langkah darurat nasional, menyusul tingginya angka penularan dan kematian. Harapan datang dari pengembangan vaksin TB yang ditargetkan tersedia pada 2029. 
Ringkasan Berita:
  • Pemerintah Indonesia menegaskan percepatan eliminasi tuberkulosis (TB) sebagai langkah darurat nasional, menyusul tingginya angka penularan dan kematian.
  • Upaya dipercepat melalui deteksi dini massal, pelacakan kontak, terapi pencegahan, serta penguatan peran masyarakat, di tengah beban lebih dari 1 juta kasus per tahun.
  • Harapan datang dari pengembangan vaksin TB yang ditargetkan tersedia pada 2029, meski tantangan seperti kasus tak terdiagnosis dan resistansi obat masih besar.

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Indonesia menegaskan percepatan eliminasi tuberkulosis (TB) sebagai langkah darurat nasional, menyusul tingginya angka penularan dan kematian akibat penyakit tersebut.

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin P. Octavianus, mengungkapkan bahwa setiap menit dua orang terinfeksi TB dan setiap empat menit satu orang meninggal dunia di Indonesia.

Hal ini disampaikan dalam kegiatan Temu Media Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (6/4/2026).

"Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan," ujar Wamenkes, dilansir dari laman Kemenkes, Rabu (8/4/2026).

Pemerintah Dorong Deteksi Dini TB

Indonesia mencatat lebih dari 1 juta kasus TB setiap tahunnya, menjadikannya sebagai salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia.

Pemerintah pun mendorong langkah cepat melalui deteksi dini secara masif, termasuk Program Cek Kesehatan Gratis dengan target menjangkau 130 juta masyarakat pada 2026.

Selain itu, strategi lain yang diperkuat meliputi pelacakan kontak erat, pemberian terapi pencegahan TB, serta penguatan peran masyarakat dan kader kesehatan.

"Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa," tegasnya.

Dukungan global juga terus diperkuat.

Perwakilan WHO Indonesia, dr. Setiawan Jati Laksono, menyebut Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB dunia.

Baca juga: RI Peringkat 2 Kasus Tuberkulosis Tertinggi di Dunia, Wamenkes Dipanggil Prabowo ke Istana

Data menunjukkan, pada 2024 terdapat sekitar 118.000 kematian akibat TB pada orang tanpa HIV dan 8.100 kematian pada orang dengan HIV di Indonesia.

"TB masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan," ujarnya.

WHO juga menyoroti sejumlah tantangan besar, seperti kasus yang belum terdiagnosis, TB resistan obat, serta faktor risiko seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok.

Meski demikian, harapan tetap terbuka melalui berbagai inovasi, dengan lebih dari 100 alat diagnostik, 29 obat TB, dan 18 kandidat vaksin yang saat ini sedang dikembangkan.

"Ini saatnya bertindak sekarang," tegasnya.

Vaksin TB Ditargetkan Tersedia 2029

Diwartakan Tribunnews sebelumnya, vaksin untuk mencegah Tuberkulosis (TB) pada remaja dan dewasa baru tersedia pada tahun 2029.

Hal ini diungkapkan oleh Peneliti Nasional Vaksin TB, Prof. DR. Dr. Erlina Burhan, Sp.P(K) dalam konferensi pers daring, Senin (24/3/2025).

Saat ini, vaksin M72/AS01E masih dalam tahap uji klinis fase 3 dan rampung pada 2028 akhir.

"Bahwa vaksin ini selesai pada tahun 2028 akhir. Dan mudah-mudahan Indonesia sudah bisa mulai vaksinasi 2029 awal. Vaksin TB ini akan menyasar remaja hingga usia 50 tahun," ujar Prof Erlina.

Ia menjelaskan, tidak ada syarat khusus bagi penerima vaksin TB.

Sama seperti jenis vaksin lain, yang diberikan kepada orang yang dalam keadaan sehat.

"Tidak sedang sakit TBC dan jika memiliki komorbid, keadaannya terkontrol," jelas dokter spesialis paru ini.

Vaksin M72/AS01E telah menunjukkan perlindungan sekitar 50 persen dalam uji klinis fase 2b selama tiga tahun pada orang dewasa yang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis atau bakteri penyebab TB.

WHO memperkirakan bahwa dalam jangka waktu 25 tahun, tingkat perlindungan ini dapat menyelamatkan 8,5 juta jiwa, mencegah 76 juta kasus baru TB, dan menghemat biaya sebesar USD 41,5 miliar bagi rumah tangga yang terdampak TB.

Sejak tahun 2022, Indonesia menjadi salah satu lokasi utama dalam uji klinis fase 3 vaksin M72/AS01E.

Hingga Maret 2025, jumlah subjek yang telah berpartisipasi dalam penelitian ini di Indonesia hampir mencapai 2.000 orang.

"Ini menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam mendukung inovasi dan penelitian untuk menemukan solusi yang lebih efektif dalam memerangi TB," ujarnya. 

Meski demikian, keberhasilan vaksin tidak hanya diukur dari efektivitasnya dalam uji klinis, tetapi juga dari kemampuannya menjangkau dan diterima oleh masyarakat luas.

Dengan meningkatnya beban TB di Indonesia, upaya untuk mengembangkan vaksin yang lebih efektif harus didukung oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah, tenaga kesehatan, peneliti, serta masyarakat luas. 

(Tribunnews.com/Latifah/Rina Ayu)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved