Air Jernih Belum Tentu Aman: Hasil Penelitian Ungkap Ada Risiko Besar untuk Anak Indonesia
Standar industri air minum dalam kemasan yang menerapkan pengawasan ketat dapat dijadikan rujukan sebagai pembanding standar kualitas
Ringkasan Berita:
- Temuan tersebut penting, terutama di tengah upaya pemerintah menekan prevalensi stunting nasional dan meningkatkan kualitas SDM Indonesia
- Jurnal IJERPH 2026 menjelaskan bahwa kontaminasi air tidak selalu terjadi di sumber air
- Kontaminasi paling banyak muncul di titik penggunaan, yakni ketika air ditampung di wadah, didinginkan, atau dipindahkan ke alat makan anak
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di banyak rumah tangga Indonesia, air dianggap sebagai sesuatu yang sudah “biasa” selama tampak jernih, dingin, dan tidak berbau, maka diasumsikan aman.
Padahal, sebuah publikasi ilmiah terbaru yang diterbitkan dalam jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH, 2026) menunjukkan bahwa kualitas air memiliki hubungan yang lebih besar dari yang selama ini dipahami, terutama dalam menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Publikasi yang dilakukan oleh Tria Rosemiarti, Diana Sunardi, dan Netta Meridianti Putri ini menelaah 15 jurnal ilmiah yang sudah dipublikasikan sebagai referensi, dari berbagai negara selama 15 tahun.
Hasilnya konsisten: kontaminasi mikrobiologis air, khususnya oleh bakteri Escherichia coli, meningkatkan risiko stunting hingga 4,14 kali. Kajian ini menghadirkan gambaran global dan nasional tentang bagaimana kualitas air minum memengaruhi tumbuh kembang anak.
Temuan tersebut penting, terutama di tengah upaya pemerintah menekan prevalensi stunting nasional dan meningkatkan kualitas SDM Indonesia.
Jurnal IJERPH 2026 juga menjelaskan bahwa kontaminasi air tidak selalu terjadi di sumber air. Justru, kontaminasi paling banyak muncul di titik penggunaan, yakni ketika air ditampung di wadah, didinginkan, atau dipindahkan ke alat makan anak.
Baca juga: Pria di Sulawesi Nekat Minum Oli dengan Dalih Kesehatan, Dokter Ungkap Bahayanya, MUI Sulsel: Haram
Dalam beberapa studi, air yang secara visual jernih terdeteksi mengandung E. coli dalam jumlah signifikan.
Situasi ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat mengenai “air layak” perlu diperbarui.
Akses ke sumber air yang dinilai layak belum menjamin air yang benar‑benar aman diminum.
Salah satu kontribusi penting dari penelitian ini adalah penjelasan tentang mekanisme biologis yang tidak banyak diketahui publik, yaitu Environmental Enteric Dysfunction (EED).
EED adalah gangguan usus kronis akibat paparan kuman yang membuat usus meradang, daya serap nutrisi menurun, dan berdampak pada pertumbuhan anak.
Dalam salah satu publikasi yang di telaah, sebuah studi menemukan bahwa paparan berulang terhadap bakteri air dapat menyebabkan peradangan usus tingkat rendah pada anak.
Kondisi tersebut tidak menimbulkan diare, namun menghambat penyerapan nutrisi, sehingga pertumbuhan anak terhambat meski asupan makanannya cukup.
"EED diperkirakan menjadi salah satu penyebab mengapa banyak anak Indonesia tetap mengalami pertumbuhan yang lambat meski sudah mendapatkan makanan bergizi," tulis Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH, 2026) dikutip Jumat(10/4/2026).
Jurnal tersebut juga menyoroti hubungan antara kualitas air dan fungsi kognitif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-air-bersih-bersih.jpg)