Si Kecil Sering Gigit Mainan? Waspada Mikroplastik Bisa Masuk Usus hingga Picu Diare dan Malnutrisi
Kebiasaan anak menggigit atau memasukkan mainan ke dalam mulut kerap dianggap hal biasa. Berisiko mikroplastik masuk usus.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Jangan anggap remeh anak menggigit atau memasukkan mainan ke dalam mulut.
- Ada risiko tersembunyi yang jarang disadari orang tua yaitu paparan mikroplastik.
- Mikroplastik yang masuk ke mulut anak ini berisiko merusak sel-sel di usus anak.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kebiasaan anak menggigit atau memasukkan mainan ke dalam mulut kerap dianggap hal biasa.
Padahal, di balik kebiasaan ini, ada risiko tersembunyi yang jarang disadari orang tua yaitu paparan mikroplastik.
Baca juga: Waspada Mikroplastik pada Anak, Dokter Ungkap Cara Pencegahannya
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik, Dr. dr. I Gusti Lanang Sidiartha, Sp.A(K), menjelaskan bahwa mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil.
“Jadi, mikroplastik itu suatu partikel plastik ya, dia plastik tapi partikel kecil gitu, dengan ukuran di bawah 5 mm begitu,” jelasnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan di akun instagram Kementerian Kesehatan, Jumat (10/4/2026).
Ukuran yang sangat kecil membuat mikroplastik mudah masuk ke dalam tubuh anak tanpa disadari.
Masuk Lewat Kebiasaan Sehari-hari
Paparan mikroplastik pada anak bisa terjadi dari hal sederhana, seperti mainan plastik yang digigit, tangan yang kotor lalu dimasukkan ke mulut, hingga lingkungan bermain yang terkontaminasi.
Tak hanya itu, mikroplastik juga bisa berasal dari makanan, air, hingga udara di sekitar anak.
Baca juga: Mikroplastik Bisa Ganggu Organ Anak, dari Paru hingga Hati, Ini Dampak yang Mulai Terungkap
Setelah masuk ke tubuh, partikel ini akan menuju sistem pencernaan.
Di sinilah dampak awal mulai terjadi.
Serang Usus, Picu Peradangan
Menurut dr. Lanang, mikroplastik dapat merusak sel-sel di usus anak.
Kerusakan ini memicu peradangan yang berdampak langsung pada kesehatan pencernaan.
Gejala yang muncul bisa beragam, mulai dari diare hingga gangguan penyerapan nutrisi.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti malnutrisi hingga stunting.
“Misalnya dengan mengalami malnutrisi sering kita dengar stunting dan sebagainya seperti itu,” ungkapnya.
Bisa Menyebar ke Organ Lain
Yang lebih mengkhawatirkan, mikroplastik tidak hanya berhenti di usus.
Partikel ini dapat masuk ke aliran darah dan menyebar ke berbagai organ tubuh.
Mulai dari hati, ginjal, paru-paru, bahkan hingga otak.
“Dia bisa ke hati, nanti bisa ke ginjal bisa ke paru-paru bisa bahkan bisa ke otak,” jelas dr. Lanang.
Artinya, dampaknya tidak hanya lokal, tetapi bisa memengaruhi seluruh sistem tubuh anak.
Bukan Penyebab Langsung, Tapi Faktor Risiko
Meski begitu, dr. Lanang menegaskan bahwa mikroplastik belum terbukti sebagai penyebab langsung penyakit.
Namun, keberadaannya menjadi faktor risiko yang memperbesar peluang anak mengalami gangguan kesehatan.
“Belum ada yang menyebabkan secara direkt bahwa ini sebagai penyebab seperti itu,” katanya.
Namun ketika usus sudah rusak, tubuh anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi.
Kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan tangan, memilih mainan, dan mengawasi anak saat bermain menjadi langkah penting.
Karena pada akhirnya, pencegahan adalah kunci.
Apalagi, risiko ini sering kali datang dari hal-hal yang dianggap sepele dalam keseharian anak.
--
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.