Survei Global Tunjukan Banyak Lansia Khawatir Terkena Cacar Api, Ini Risiko yang Perlu Diketahui
Banyak orang dewasa yang khawatir terkena cacar api. Dari Survei global menunjukkan sebanyak 78 persen responden khawatir cacar api ganggu aktivitas
Risiko tertinggi ditemukan pada pengidap HIV/AIDS (3,22 kali), diikuti kanker (2,17 kali) dan penyakit autoimun (1,3–2 kali).
Risiko juga meningkat pada penderita PPOK (1,41 kali), penyakit kardiovaskular (1,34 kali), dan diabetes (1,24 kali).
Selain penyakit penyerta, faktor lain seperti usia lanjut, riwayat cacar api sebelumnya, stress, serta jenis kelamin perempuan juga berperan dalam meningkatkan risiko terkena cacar api.
Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Nurwestu Rusetiyanti, kelompok dengan kondisi imun lemah seperti lansia, penderita HIV/AIDS, kanker, dan penyakit autoimun memiliki risiko lebih tinggi terkena cacar api.
“Risiko lebih tinggi terjadi pada kelompok imunokompromi, termasuk lansia dan penderita penyakit kronis tertentu,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4).
Selain berdampak pada kesehatan, penyakit ini juga menimbulkan beban ekonomi. Dalam periode 2015–2022 tercatat sekitar 390.000 kasus cacar api di 10 provinsi besar di Indonesia. Pada 2021, biaya penanganan oleh BPJS mencapai Rp27,1 miliar, tertinggi selama periode tersebut.
Secara individu, biaya perawatan juga tidak kecil, yakni hingga Rp10 juta untuk rawat inap dan Rp3 juta untuk rawat jalan.
Meski kekhawatiran cukup tinggi, kesadaran masyarakat terhadap hubungan antara penyakit kronis, penurunan daya tahan tubuh, dan risiko cacar api masih rendah.
Sekitar 1 dari 4 responden tidak menyadari bahwa penyakit kronis dapat memengaruhi risiko cacar api, dan hampir separuh tidak mengetahui bahwa kondisi tersebut bisa memperparah gejala.
.
Director of Market Access, Communication and Government Affairs GSK Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/CACAR-API-2.jpg)