Kamis, 23 April 2026

Survei Global Tunjukan Banyak Lansia Khawatir Terkena Cacar Api, Ini Risiko yang Perlu Diketahui

Banyak orang dewasa yang khawatir terkena cacar api. Dari Survei global menunjukkan sebanyak 78 persen responden khawatir cacar api ganggu aktivitas

Tribunnews.com/ist
CACAR API - Survei global menunjukkan banyak orang dewasa khawatir terhadap cacar api, dengan 78 persen takut penyakit ini mengganggu aktivitas dan 72 persen khawatir berujung rawat inap, terutama pada penderita penyakit kronis. 
Ringkasan Berita:
  • Banyak orang dewasa yang khawatir terkena cacar api.
  • Dari Survei global menunjukkan sebanyak 78 persen responden khawatir cacar api dapat mengganggu aktivitas sehari-hari
  • Survei global ini menyasar lebih dari 6.000 orang usia 50 ke atas di 10 negara menunjukkan, penderita penyakit kronis berisiko lebih tinggi terkena cacar api

 

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Survei global menunjukkan, banyak orang dewasa yang khawatir terkena cacar api.

Sebanyak 78 persen responden khawatir cacar api dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan 72 persen khawatir penyakit ini dapat menyebabkan rawat inap jangka panjang di rumah sakit terutama bagi mereka yang memiliki penyakit kronis.

Baca juga: Cacar Api Bisa Menyerang Saraf dan Mata, Dokter Jelaskan Bahaya Herpes Zoster

Survei ini dilakukan GSK sebagai bagian dari kampanye Shingles Action Week, sekaligus untuk mendukung Hari Kesehatan Dunia yang jatuh pada 7 April 2026.

 

Survei global terhadap lebih dari 6.000 orang usia 50 ke atas di 10 negara menunjukkan, penderita penyakit kronis berisiko lebih tinggi terkena cacar api dan mengalami komplikasi serius.

 

Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan, lantaran 42 persen penderita mengalami nyeri berat dan 33 persen terganggu aktivitas serta produktivitasnya ketika terkena cacar api.

 

Cacar api dapat menyerang 1 dari 3 orang dewasa dalam hidup mereka.

 

Risiko Terkena Cacar Api dan Beban Pembiayaan

 

Menurut penelitian global, studi klinis menunjukkan, beberapa penyakit kronis meningkatkan risiko terkena cacar api, seperti penyakit jantung (CVD) sebesar 34 persen, penyakit ginjal (PGK) 29 persen, diabetes (38 persen), atau PPOK atau asma hingga 41 persen.

Di Indonesia, beberapa penyakit komorbid dan faktor tertentu terbukti meningkatkan risiko cacar api.

Risiko tertinggi ditemukan pada pengidap HIV/AIDS (3,22 kali), diikuti kanker (2,17 kali) dan penyakit autoimun (1,3–2 kali).

Risiko juga meningkat pada penderita PPOK (1,41 kali), penyakit kardiovaskular (1,34 kali), dan diabetes (1,24 kali).

Selain penyakit penyerta, faktor lain seperti usia lanjut, riwayat cacar api sebelumnya, stress, serta jenis kelamin perempuan juga berperan dalam meningkatkan risiko terkena cacar api.

Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Nurwestu Rusetiyanti, kelompok dengan kondisi imun lemah seperti lansia, penderita HIV/AIDS, kanker, dan penyakit autoimun memiliki risiko lebih tinggi terkena cacar api.

“Risiko lebih tinggi terjadi pada kelompok imunokompromi, termasuk lansia dan penderita penyakit kronis tertentu,” ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4).

 

Selain berdampak pada kesehatan, penyakit ini juga menimbulkan beban ekonomi. Dalam periode 2015–2022 tercatat sekitar 390.000 kasus cacar api di 10 provinsi besar di Indonesia. Pada 2021, biaya penanganan oleh BPJS mencapai Rp27,1 miliar, tertinggi selama periode tersebut.

 

Secara individu, biaya perawatan juga tidak kecil, yakni hingga Rp10 juta untuk rawat inap dan Rp3 juta untuk rawat jalan.

 

Meski kekhawatiran cukup tinggi, kesadaran masyarakat terhadap hubungan antara penyakit kronis, penurunan daya tahan tubuh, dan risiko cacar api masih rendah.

 

Sekitar 1 dari 4 responden tidak menyadari bahwa penyakit kronis dapat memengaruhi risiko cacar api, dan hampir separuh tidak mengetahui bahwa kondisi tersebut bisa memperparah gejala.

.

Director of Market Access, Communication and Government Affairs GSK Indonesia

Reswita Dery Gisriani,  menyampaikan, meski banyak orang sudah memahami pentingnya pengelolaan penyakit kronis, tidak semua menyadari bahwa kondisi tersebut dapat melemahkan daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko cacar api.

 

Risiko ini makin tinggi pada lansia dengan penyakit seperti jantung, diabetes, ginjal, PPOK, hingga HIV/AIDS dan kanker, serta dapat menimbulkan biaya perawatan yang besar. Karena itu, edukasi dan pencegahan perlu ditingkatkan.

 

“Termasuk juga cacar api perlu dipahami sebagai bagian penting dari pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi orang berusia 50 tahun ke atas dengan kondisi kronis,” ungkap Reswita.

 

Apa Itu Cacar Api dan Penyebabnya?

Herpes zoster atau cacar api adalah infeksi pada saraf dan kulit di sekitarnya
Herpes zoster atau cacar api adalah infeksi pada saraf dan kulit di sekitarnya (hallodoc)

Cacar api disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster (VZV), virus yang sama yang menyebabkan cacar air.

 

Cacar api adalah penyakit menyakitkan yang dapat menyebabkan komplikasi serius dan berkepanjangan. Pada usia 50 tahun, kebanyakan orang dewasa telah memiliki VZV yang sedang dorman di sistem saraf mereka, yang dapat mengalami reaktivasi seiring bertambahnya usia. Seiring usia yang bertambah, kekuatan respons sistem kekebalan terhadap infeksi menurun, meningkatkan risiko terkena cacar api.

 

Cacar api biasanya muncul sebagai ruam, dengan lepuh yang menyakitkan di dada, perut atau wajah.

 

Rasa sakit sering digambarkan sebagai sakit terbakar, tertusuk atau seperti tersetrum.

 

Selain ruam, seseorang juga dapat mengalami neuralgia pasca-herpes (NPH), nyeri saraf yang dapat berlangsung berminggu-minggu atau berbulan- bulan dan kadang dapat bertahan selama beberapa tahun.

 

NPH adalah komplikasi cacar api yang paling umum, terjadi pada 5-30 persen dari semua kasus cacar api tergantung pada usia individu.

 

Cacar api juga dapat mempengaruhi mata, dimana dalam kasus yang jarang terjadi, dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved