Cara Otak Membentuk Perasaan Insecure Usai Bentuk Fisik Dikomentari
Penting untuk mulai menyadari bahwa komentar fisik bukan sekadar kata-kata. Ia bisa membentuk cara berpikir, perasaan, hingga perilaku seseorang.
Ringkasan Berita:
- Penting untuk mulai menyadari bahwa komentar fisik bukan sekadar kata-kata. Ia bisa membentuk cara berpikir, perasaan, hingga perilaku seseorang
- Bagi sebagian orang, komentar sederhana bisa terasa sangat mengganggu. Bahkan, tak jarang memicu overthinking hingga menurunkan rasa percaya diri
- Kondisi ini tidak hanya berhenti pada rasa tidak nyaman. Dalam jangka panjang, bisa berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pernah merasa kepikiran berhari-hari hanya karena komentar soal fisik? Entah itu soal berat badan, warna kulit, atau bentuk wajah.
Bagi sebagian orang, komentar sederhana bisa terasa sangat mengganggu. Bahkan, tak jarang memicu overthinking hingga menurunkan rasa percaya diri.
Dokter spesialis kedokteran jiwa, Dr. dr. Andrian Fajar Kusumadewi, M.Sc., Sp.KJ(K),, menjelaskan fenomena ini bukan tanpa alasan. Ada proses psikologis yang terjadi di dalam otak.
Ia mengatakan, semua yang kita lihat dan dengar akan diproses oleh otak dan membentuk persepsi tertentu.
Baca juga: Audy Item Lelah Fisik & Mental Hadapi Body Shaming, Padahal Berusaha Turunkan Berat Badan
“Iya betul sekali ya. Jadi apa yang kita lihat, apa yang kita dengar gitu, kita rasakan itu kan tentunya akan ditangkap oleh panca indera. Jadi indera-indera sensoris ya mata, telinga dan sebagainya. Nah tentunya informasi-informasi tersebut kemudian akan diteruskan ke otak gitu, ke pusat berpikir gitu,” jelasnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan di akun Instagram Kementerian Kesehatan, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, masalah muncul ketika informasi tersebut diterima terus-menerus tanpa disaring dengan baik.
Apalagi di era media sosial, standar kecantikan seringkali dibentuk secara sempit dan berulang.
“Nah jadi kalau misalnya ini itu dipaparkan terus-menerus, Intens gitu ya kemudian juga tidak diimbangi dengan daya pilah yang baik, pertimbangan-pertimbangan yang baik. Nah itu lama-lama bisa menciptakan yang disebut distorsi kognitif Atau kesalahan dalam berpikir gitu ya,” lanjutnya.
Distorsi kognitif inilah yang membuat seseorang mulai berpikir secara tidak realistis. Misalnya, merasa bahwa cantik hanya berarti putih, atau tubuh ideal harus sangat kurus.
Akibatnya, seseorang jadi mudah membandingkan diri dengan standar yang terlalu tinggi.
“Lama-kelamaan bisa menimbulkan overthinking Bisa menimbulkan perasaan insecure gitu. Kemudian membanding-bandingkan tapi standarnya itu terlalu tinggi. Kalau dibiarkan jadi bisa menimbulkan perasaan-perasaan cemas Kemudian juga perasaan tidak berharga, tidak percaya diri,” paparnya.
Lebih jauh, kondisi ini tidak hanya berhenti pada rasa tidak nyaman. Dalam jangka panjang, bisa berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Mulai dari sulit tidur, stres berkepanjangan, hingga depresi.
Menariknya, kondisi ini juga bisa terjadi pada orang yang secara fisik sudah dianggap “ideal”.
Hal ini karena persepsi diri tidak selalu sejalan dengan kenyataan.
“Ya betul sekali ya, jadi memang dengan adanya faktor-faktor lain yang berpengaruh. Misalnya seperti tekanan dari lingkungan sekitar. Kemudian juga mungkin secara sosial. Nah apa yang mungkin sudah dimiliki saat ini itu tidak senantiasa berbanding lurus dengan penerimaan diri ya,” jelasnya.
Artinya, masalah utamanya bukan pada fisik, melainkan pada cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Karena itu, penting untuk mulai menyadari bahwa komentar fisik bukan sekadar kata-kata. Ia bisa membentuk cara berpikir, perasaan, hingga perilaku seseorang.
Dan di situlah pentingnya memilah informasi, serta membangun persepsi diri yang lebih sehat.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-overthinking-OK__.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.