Minggu, 10 Mei 2026

Perawatan Bayi Prematur Kini Utamakan Keterlibatan Orangtua dan ASI

Keberhasilan perawatan bayi prematur merupakan kolaborasi seluruh tim medis, mulai dari perawat, bidan, hingga keterlibatan orang tua.

Tayang:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
HO/IST/Istimewa/HO
PENANGANAN BAYI PREMATUR - Dokter spesialis anak konsultan neonatologi I Gusti Ayu Nyoman Partiwi menyebut pendekatan perawatan bayi prematur di Indonesia kini mulai berubah dengan melibatkan orang tua dalam layanan NICU. Menurut dr Tiwi, keberhasilan perawatan bayi prematur tidak hanya ditentukan kemampuan dokter, tetapi juga kolaborasi tenaga medis, perawat, bidan, dan keluarga pasien. 
Ringkasan Berita:
  • Dokter spesialis neonatologi menilai angka kelahiran prematur di Indonesia masih tinggi dan perlu diimbangi edukasi kepada masyarakat
  • Perawatan NICU kini mulai mengedepankan pendekatan humanis dengan melibatkan orangtua dalam proses penyembuhan bayi
  • Selain teknologi medis, dukungan keluarga dan ASI dinilai penting bagi tumbuh kembang bayi prematur

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Pendekatan perawatan bayi prematur di Indonesia mulai mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya perawatan neonatal lebih berfokus pada intervensi medis dan penggunaan alat, kini pendekatan yang lebih terintegrasi dengan melibatkan keluarga, terutama orang tua, mulai banyak diterapkan dalam layanan Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

Dokter spesialis anak konsultan neonatologi I Gusti Ayu Nyoman Partiwi mengatakan keberhasilan perawatan bayi prematur tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dokter, tetapi juga kolaborasi seluruh tim medis, mulai dari perawat, bidan, hingga keterlibatan orang tua.

“NICU bukan hanya soal dokternya hebat, tetapi bagaimana seluruh tim bekerja bersama. Persalinan normal tanpa komplikasi pun banyak ditangani bidan, terutama di daerah yang dokter kandungannya masih terbatas,” kata dr Tiwi saat talkshow bertema Optimalisasi Tumbuh Kembang Bayi Prematur Melalui Intervensi Dini dalam rangka International Nursing Day Event 2026 di RSU Bunda Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Talkshow tersebut juga menghadirkan R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Ns. Novardian, dan Linda Hernawati.

Menurut dr Tiwi, kualitas layanan NICU di Indonesia masih belum merata. Meski kota besar seperti Jakarta memiliki fasilitas lebih baik, kesenjangan sumber daya manusia dan teknologi masih terjadi di banyak daerah.

“Kalau bicara Jakarta mungkin lebih baik, tetapi tetap belum semuanya merata, baik dari sisi SDM maupun teknologi,” ujarnya.

Ia menegaskan tujuan utama perawatan bayi prematur bukan sekadar mempertahankan hidup bayi, melainkan memastikan tumbuh kembang berjalan optimal.

“Otak bayi sebenarnya belum matang sebelum usia kandungan 37 minggu. Ketika bayi lahir pada usia 28 sampai 32 minggu, justru perkembangan otaknya sedang sangat pesat,” katanya.

Karena itu, pendekatan NICU modern kini mulai mengedepankan konsep yang menyerupai kondisi di dalam rahim ibu dan tidak hanya bergantung pada alat medis.

“Dulu NICU identik dengan ruangan terang, penuh suara alarm, dan bayi hanya berada di inkubator. Sekarang kami ingin mengubah itu,” ujarnya.

Senada dengan itu, dr Adhi menilai perawatan NICU kini tidak lagi hanya bertujuan mempertahankan hidup bayi, tetapi juga mempersiapkan kualitas tumbuh kembang jangka panjang.

“NICU bukan hanya tentang menyelamatkan kehidupan, tetapi juga mempersiapkan kehidupan setelahnya,” ujar dr Adhi.

Baca juga: Lesti Kejora Punya Bayi Prematur, Rizky Billar Khawatir Anak Ketiganya Lahir Tak Sesuai HPL

Menurut dia, pendekatan Family Integrated Care (FICare) mulai banyak diterapkan dalam layanan neonatal. Melalui pendekatan tersebut, orangtua tidak lagi hanya menjadi pengunjung atau pengamat, melainkan dilibatkan sebagai bagian penting dalam proses perawatan bayi prematur.

Orangtua diberikan edukasi sejak awal, didampingi secara intensif, serta didorong untuk terlibat aktif dalam perawatan harian bayi mereka.

Pendekatan itu dinilai memberi dampak positif, tidak hanya terhadap kondisi bayi, tetapi juga kesiapan psikologis keluarga ketika bayi diperbolehkan pulang dari ruang NICU.

Orang Tua Terlibat dalam Penyembuhan Bayi Prematur

Dr Tiwi menekankan keterlibatan orangtua memiliki pengaruh besar terhadap proses penyembuhan bayi prematur.

“Kalau dulu ada jam besuk dan orang tua tidak bebas masuk, sekarang justru kami dorong orang tua cepat masuk, memeluk, menyentuh, atau minimal memegang bayinya. Itu energi yang luar biasa,” katanya.

Menurut dia, sentuhan dan kedekatan emosional orang tua sama pentingnya dengan alat medis di ruang NICU.

“Kami selalu menjelaskan kepada keluarga bahwa fungsi orangtua sama pentingnya dengan alat-alat di NICU. Sentuhan, pelukan, dan doa itu sangat dibutuhkan bayi,” ujarnya.

Selain keterlibatan keluarga, optimalisasi pemberian air susu ibu (ASI) juga menjadi fokus utama dalam penanganan bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah.

Menurut dr Adhi, pemberian ASI dari ibu kandung atau mother’s own milk (MOM) memiliki manfaat besar karena kandungan nutrisi dan faktor protektifnya menyesuaikan kebutuhan bayi prematur.

Baca juga: Tantangan Bayi Prematur Lanjutkan Hidup Setelah Lahir, Organ Belum Matang hingga Risiko Infeksi

“Pada bayi prematur, ASI ibu memiliki kandungan nutrisi dan faktor protektif yang paling sesuai dengan kebutuhan spesifik bayi,” katanya.

Karena itu, metode Kangaroo Mother Care (KMC) atau metode kanguru semakin didorong dalam layanan neonatal melalui kontak kulit langsung antara ibu dan bayi.

“Suara napas dan detak jantung ibu menjadi rangsangan penting bagi perkembangan bayi,” kata dr Tiwi.

Menurut dr Adhi, metode KMC tidak hanya membantu menjaga stabilitas fisiologis bayi, tetapi juga mendukung perkembangan bayi sekaligus meningkatkan produksi ASI ibu.

Pendekatan tersebut bahkan melibatkan ayah dan anggota keluarga lain dalam proses pendampingan bayi prematur.

“Perawatan bayi prematur tidak bisa hanya mengandalkan teknologi dan alat medis. Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang bayi,” ujarnya.

Dalam praktiknya, dr Tiwi mengungkapkan pernah merawat bayi prematur dengan berat lahir hanya 700 gram pada usia kandungan 28 minggu.

“Sekarang beratnya sudah 1,9 kilogram setelah dirawat sekitar 70 hari,” ujarnya.

Ia menegaskan keberhasilan perawatan bayi prematur tidak cukup diukur dari tingkat keselamatan hidup, tetapi juga kualitas tumbuh kembang anak.

Menurut dr Tiwi, edukasi terhadap orang tua menjadi bagian penting sebelum bayi diperbolehkan pulang. Orang tua perlu memahami tanda bahaya dan cara merawat bayi prematur secara mandiri di rumah.

“Biasanya kalau berat bayi sudah sekitar 1,8 sampai 1,9 kilogram dan kemampuan minumnya baik, kami mulai persiapkan untuk pulang,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengakui angka kematian bayi prematur di sejumlah daerah masih tinggi akibat keterbatasan fasilitas kesehatan dan tenaga medis.

“Teman-teman dokter yang bertugas di daerah timur sering menyampaikan bahwa dengan fasilitas dan SDM terbatas, sangat sulit mempertahankan bayi-bayi prematur,” katanya.

Menurut dia, tantangan tersebut juga diperparah minimnya edukasi masyarakat terkait risiko kehamilan dan persalinan prematur.

Baca juga: Krisis Kemanusiaan Terburuk di Gaza: Listrik Padam, Bayi Prematur Meninggal di Inkubator

“Masih banyak masyarakat yang belum memahami risiko persalinan prematur. Bahkan ada yang menolak dirujuk,” ujarnya.

Selain faktor fasilitas kesehatan, dr Tiwi menyebut pernikahan usia remaja, infeksi saat kehamilan, hingga kurangnya asupan protein hewani pada ibu hamil turut meningkatkan risiko kelahiran prematur.

“Kehamilan prematur itu kompleks sekali penyebabnya. Karena itu, yang harus dibenahi sebenarnya kesehatan ibunya sejak remaja,” katanya.

Ia juga mengingatkan obesitas pada remaja perempuan dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan di kemudian hari, termasuk kelahiran prematur.

“Kalau kesehatan remajanya tidak baik, nanti saat hamil risikonya juga tinggi, termasuk melahirkan prematur,” ujar dr Tiwi.

Menurut dia, pendampingan psikologis kepada keluarga menjadi bagian penting dalam penanganan bayi prematur karena sebagian besar orang tua mengalami kepanikan saat mengetahui kondisi bayinya.

“Biasanya orang tua pasti panik. Tugas dokter dan perawat adalah mendampingi, menjelaskan kondisinya, dan meyakinkan bahwa bayi tetap punya peluang tumbuh baik dengan perawatan yang tepat,” katanya. 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved