Selasa, 12 Mei 2026

Penyakit Moya-moya Bisa Picu Stroke di Usia Muda, Ketahui Gejala Awalnya

Yang membuat penyakit ini berbahaya, gejalanya bisa muncul pada orang muda yang tampak sehat dan tidak memiliki faktor risiko stroke umum.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
AI Gemini
ILUSTRASI STROKE - Ilustrasi gambar otak yang mengalami serangan stroke. 

Salah satu masalah terbesar pada pasien moya-moya adalah gejala awal yang sering dianggap sepele.

Padahal, stroke ringan yang sempat membaik bisa menjadi tanda awal penyempitan pembuluh darah otak.

“Kadang orang Indonesia menurut saya cukup kuat-kuat, jadi mungkin setelah ada gejala itu, dia istirahat, membaik, nah karena membaik, dia nggak ke rumah sakit,” katanya.

Ia mengingatkan gejala mendadak seperti wajah mencong, tangan mendadak lemas atau bicara sulit harus segera diperiksa.

Meski gejalanya membaik setelah istirahat, kondisi tersebut tetap tidak boleh diabaikan.

“Kalau ada gejala itu meskipun minimal, tetap harus ke rumah sakit, meskipun baik,” tegasnya.

Bisa Menyerang Anak-anak

Meski sering dikaitkan dengan usia produktif, moya-moya ternyata juga bisa menyerang anak-anak.

Menurut literatur medis, kasus paling banyak terjadi pada usia 5 hingga 9 tahun.

Bahkan rumah sakit tempat narasumber bekerja pernah menemukan pasien moya-moya berusia 3 tahun.

Untuk usia dewasa, kasus paling banyak ditemukan pada rentang usia 30 hingga 50 tahun.

“Namun menurut saya harus tetap diwaspadai karena memang utamanya terjadi di usia muda. Di mana usia muda itu usia masih produktif,” jelasnya.

Penyakit Langka yang Diduga Berkaitan dengan Genetik

Moya-moya disebut lebih banyak ditemukan di Asia Timur seperti Jepang, Korea dan China. Meski begitu, penyebab pastinya hingga kini belum sepenuhnya dipahami.

Dokter mengatakan faktor genetik diduga memiliki peran besar.

“Mutasi gen RNF 213 itu yang sebagai faktor risiko secara genetik dapat menyebabkan pasien memiliki penyakit moya-moya,” ujarnya.

Karena berkaitan dengan faktor genetik, penyakit ini tidak bisa dicegah hanya dengan perubahan gaya hidup.

Namun deteksi dini menjadi penting untuk mencegah kerusakan otak yang lebih berat.
 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved