Selasa, 19 Mei 2026

Wabah Ebola Mengganas, Kemenkes Ingatkan Masyarakat Jangan Konsumsi Hewan Liar

WHO baru-baru ini meluncurkan status darurat kesehatan masyarakat global terkait merebaknya wabah Ebola di kawasan Kongo dan Uganda.

Tayang:
africacdc.org
WABAH EBOLA - Petugas medis mengenakan alat pelindung diri lengkap sebelum memasuki zona isolasi Ebola di Kongo. Badan Kesehatan Dunia, WHO, mengingatkan pentingnya mengenali gejala awal untuk mencegah penyebaran virus mematikan ini. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior

Ringkasan Berita:
  • WHO baru-baru ini meluncurkan status darurat kesehatan masyarakat global terkait merebaknya wabah Ebola di kawasan Kongo dan Uganda.
  • Sudah terdeteksi di atas 300 kasus suspek bergejala berat dengan angka kematian mencapai 88 korban jiwa.
  • Kemenkes RI memperketat dinding pertahanan dan meminta seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya dalam memilah apa yang dikonsumsi sehari-hari.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dunia kembali dikejutkan dengan lonjakan kasus kesehatan mematikan. 

Sebagaimana diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini meluncurkan status darurat kesehatan masyarakat global terkait merebaknya wabah Ebola di kawasan Kongo dan Uganda.

Baca juga: Mengenal Wabah Ebola Virus Bundibugyo yang Dianggap Berbahaya oleh WHO

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, membeberkan data sejauh ini sudah terdeteksi di atas 300 kasus suspek bergejala berat dengan angka kematian mencapai 88 korban jiwa.

Menyikapi keputusan krusial tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI langsung bergerak cepat memperketat dinding pertahanan dan meminta seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya dalam memilah apa yang dikonsumsi sehari-hari.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, memberikan peringatan keras agar warga menjauhkan diri dari makanan ekstrem seperti daging satwa liar serta hidangan yang belum diolah secara sempurna demi memutus rantai potensi infeksi.

"Masyarakat diimbau hanya mengonsumsi daging yang telah dimasak matang dan menghindari konsumsi hewan liar," kata Aji dalam keterangannya, dikutip Senin (18/5/2026).

Langkah preventif ini diambil menyusul keputusan darurat dari WHO setelah mencermati kurva kasus Ebola yang melonjak tajam di dua negara Afrika tersebut. 

Meski status waspada penuh sudah diketuk, WHO memberikan catatan penting bahwa fenomena ini berbeda dan belum dikelompokkan ke dalam jenis pandemi layaknya COVID-19 yang lalu. 

Pihak WHO juga merasa belum perlu mengeluarkan instruksi terkait pemblokiran akses transportasi atau penutupan gerbang perbatasan internasional.

Dari hasil investigasi medis, terungkap bahwa badai penyakit kali ini dipicu oleh serangan virus Bundibugyo. 

Ini merupakan salah satu jenis mutasi Ebola yang cukup langka, di mana hingga detik ini pihak medis belum menemukan formula vaksin resmi ataupun metode pengobatan yang diakui secara global.

Menghadapi ancaman nyata ini, Aji menegaskan jajaran pemerintah tidak akan tinggal diam dan terus memonitor fluktuasi kasus dunia demi membentengi tanah air.

"Pemerintah terus melakukan pemantauan perkembangan kasus Ebola di tingkat global serta memperkuat kesiapsiagaan nasional guna mencegah masuknya penyakit ke Indonesia," ungkapnya.

Pintu Masuk Diperketat, Ratusan RS Rujukan Disiagakan

Sebagai langkah nyata di lapangan, Kemenkes dilaporkan telah menyiagakan pos pemeriksaan bagi para pelancong dari luar negeri di bandara maupun pelabuhan internasional. 

Pengawasan ketat ini mengandalkan teknologi pemindai suhu tubuh (thermal scanner), pemantauan kondisi fisik secara langsung, hingga kewajiban penggunaan aplikasi All Indonesia.

Tidak hanya itu, benteng pertahanan medis dalam negeri juga dipersiapkan matang lewat penunjukan 198 rumah sakit rujukan yang terintegrasi dalam sistem pelayanan Penyakit Infeksi Emerging (PIE). 

Deteksi dini (surveilans) pun dimaksimalkan lewat pemantauan konstan di 21 rumah sakit sentinel yang tersebar luas di 20 provinsi.

Di sisi lain, Kemenkes juga terus mematangkan kesiapan laboratorium uji klinis, menggelar pembekalan khusus bagi para tenaga medis, serta menjalin komunikasi intensif lintas sektor termasuk berkoordinasi langsung dengan pihak WHO.

Menutup keterangannya, Aji meminta publik untuk kembali memperketat kebiasaan hidup bersih dan sehat (PHBS). 

Mulai dari rutin membasuh tangan dengan sabun atau cairan pembersih, mengenakan masker saat kurang fit atau berada di kerumunan, hingga tidak melupakan etika saat bersin dan batuk.

Warga juga diwanti-wanti untuk menjauhi interaksi langsung dengan pasien bergejala, satwa yang dicurigai terinfeksi, maupun barang-barang yang berpotensi tercemar virus.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved