Kemenkes Awasi Minuman Manis, Label Nutri-Level Disebut Bisa Tekan Risiko Stroke hingga Gagal Ginjal
Kemenkes RI perkuat pengawasan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) masyarakat melalui penerapan label nutrisi “Nutri-Level” minuman siap saji.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Kemenkes memperkuat pengawasan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) masyarakat.
- Pengawasan dilakukan melalui penerapan label nutrisi “Nutri-Level" pada minuman siap saji.
- Langkah ini bagian dari upaya menekan angka penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, penyakit jantung, hipertensi hingga gagal ginjal kini menjadi ancaman kesehatan utama masyarakat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mulai memperkuat pengawasan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) masyarakat melalui penerapan label nutrisi “Nutri-Level” pada minuman siap saji.
Program ini diluncurkan bersama Lippo Mall, Universitas Pelita Harapan (UPH), dan PT Siloam International Hospitals Tbk sebagai bagian dari upaya menekan angka penyakit tidak menular (PTM) yang terus meningkat di Indonesia.
Baca juga: Minuman Manis Diutamakan, Nasi Dibatasi, Dokter Gizi: Pola Makan Ini Berisiko
Mulai dari stroke, penyakit jantung, hipertensi hingga gagal ginjal kini menjadi ancaman kesehatan utama masyarakat.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan langkah ini dilakukan agar masyarakat lebih sadar terhadap kandungan nutrisi dalam minuman yang dikonsumsi setiap hari.
“Tugas utama kita adalah menaikkan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 menjadi 76 tahun, serta memastikan masa hidup sehat atau healthy life expectancy naik dari usia 60 ke 65 tahun,"ungkapnya dikutip dari website resmi Kementerian Kesehatan, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, program ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan sebuah gerakan nasional untuk menyelamatkan nyawa.
Yaitu dengan memberikan informasi nutrisi yang transparan kepada setiap keluarga.
Stroke dan Penyakit Ginjal Masih Tinggi
Kemenkes menyoroti tingginya angka kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia.
Data The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2023 mencatat stroke menjadi penyebab kematian tertinggi dengan angka 337.277 jiwa.
Disusul penyakit jantung sebanyak 264.668 jiwa, penyakit ginjal 56.118 jiwa, dan hipertensi 51.623 jiwa.
Tak hanya itu, prevalensi penyakit ginjal di Indonesia juga disebut sangat tinggi, mencapai lebih dari 35,2 juta kasus.
Kondisi ini dinilai berkaitan dengan pola hidup masyarakat, termasuk kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula secara berlebihan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-minuman-kemasan-berpemanis-okk.jpg)