Mengapa Hormon Bisa Memperburuk Gejala ADHD pada Wanita?
Perubahan hormon seperti estrogen dapat memperburuk gejala ADHD pada wanita, terutama saat menstruasi, kehamilan, dan menopause.
Perubahan keseimbangan hormon ini dapat menurunkan ketersediaan dopamin, sehingga banyak wanita menjadi lebih sensitif dan lebih sulit mengatur aktivitas harian.
Kondisi ini meningkatkan risiko Premenstrual syndrome (PMS), dengan gejala seperti mudah marah, cemas, suasana hati depresi, sakit kepala, dan nyeri payudara. Studi menunjukkan PMS jauh lebih sering terjadi pada wanita dengan ADHD.
Bentuk PMS yang lebih berat dan kronis adalah Premenstrual dysphoric disorder (PMDD), yang memengaruhi 3–5 persen wanita usia subur. Ada indikasi bahwa wanita dengan ADHD juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.
Beberapa metode penanganan PMS dan PMDD meliputi obat herbal seperti monk’s pepper, antidepresan SSRI dosis rendah yang meningkatkan serotonin, serta terapi hormonal seperti pil KB atau gel estrogen.
Selama kehamilan, kadar estrogen meningkat tajam, yang juga dapat memengaruhi gejala ADHD pada wanita. Borg Skoglund mengatakan banyak pasien melaporkan merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri, serta khawatir tentang persalinan dan kemampuan menjadi ibu.
Ketika kadar estrogen turun setelah melahirkan, suasana hati depresi lebih sering muncul. Menurut Rudolph, sekitar 10–20 persen wanita secara umum mengalami depresi pascamelahirkan, tetapi beberapa studi menunjukkan angka ini bisa mencapai 60 persen pada wanita dengan ADHD.
Banyak wanita dengan ADHD baru didiagnosis saat perimenopause, yaitu masa transisi alami menuju menopause. Pada fase ini, ovarium menghasilkan lebih sedikit progesteron atau berhenti memproduksinya, sementara kadar estrogen berfluktuasi besar, yang dapat memengaruhi serotonin dan dopamin di otak.
Fluktuasi hormon yang tidak stabil ini dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang lebih kuat, masalah regulasi emosi, dan toleransi stres yang menurun. Beberapa wanita bahkan melaporkan mengalami gejala ADHD saat menopause yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
“Dengan mempertimbangkan kemungkinan kontraindikasi, penting untuk serius mempertimbangkan terapi penggantian hormon bagi wanita-wanita ini,” kata Rudolph.
Selain obat-obatan, olahraga juga dapat membantu, begitu pula latihan pikiran-tubuh seperti Tai chi, Yoga, atau qigong.
“Strategi sehari-hari seperti rutinitas tetap, tidur cukup, olahraga teratur, pola makan sehat, dan perencanaan terstruktur sangat penting terutama selama fase kehidupan dengan gejolak hormon,” ujar Borg Skoglund. Ia juga menambahkan bahwa kelompok dukungan dan edukasi psikologis dapat membantu.