Jangan Anggap Sepele Batuk Kronis, Orangtua Perlu Jeli Deteksi Dini
Batuk berlangsung lebih dari 4 minggu pada anak tanpa ada tanda-tanda sembuh, orangtua harus segera membawa anak ke dokter spesialis pernapasan anak.
Ringkasan Berita:
- Orangtua sering menganggap batuk kronis pada anak usia di bawah 5 tahun sebagai hal sepele dan menganggap sebagai batuk biasa.
- Jika batuk pada anak berlangsung lebih dari 4 minggu tanpa ada tanda-tanda sembuh, orangtua harus segera membawa anak ke dokter spesialis pernapasan anak agar tidak terlambat ditangani.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dr Noor Zehan, Dokter Spesialis Pernapasan Anak dari Rumah Sakit Sunway, Kuala Lumpur, Malaysia, mengingatkan para orangtua agar mewaspadai batuk kronis pada anak usia di bawah 5 tahun.
Umumnya, orangtua menganggap batuk seperti ini sebagai hal sepele dan dianggap sebagai batuk biasa.
"Anak kecil sering batuk pilek. Kalau kita tidak cermat memperhatikan kita akan tidak mengetahui munclnya batuk kronis. Batuk kronis banyak terjadi di anak usia 5 tahun ke bawah," ungkapnya di acara MediOne Gathering di Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026.
Dijelaskan, untuk memastikan apakah mengalami batuk kronis, orangtua perlu mengecek riwayat sakitnya secara detil.
"Cek batuknya jenis batuk kering atau basah untuk membedakan penyakit yang dibawa. Cek juga batuknya di waktu siang ataukah di waktu malam. Misal, anak bangun dari tidur lalu batuk."
Dia juga menyarankan agar orangtua mengecek progres batuknya. Apakah pelan ataukan cepat perkembangan batuknya. Cek juga apakah disertai dengan demam atau tidak.
Baca juga: Mengapa Anak Zaman Sekarang Mudah Batuk, Alergi, dan Sesak Napas? Ternyata Tak Cuma Virus Pemicunya
Selain itu cek juga gejala lain seperti suara denging pasca anak mengalami batuk. Batuk ini kadang diikuti dengan sakit pada telinga. "Kadang hal itu terjadi sebagai penyakit ikutan pada anak yang batuk," beber Dr Noor Zehan.
Dia mengatakan, batuk yang berlangsung lebih dari 4 minggu pada anak tanpa ada tanda-tanda sembuh, orangtua harus segera membawa anak ke dokter spesialis pernapasan anak agar tidak terlambat ditangani.
Dia menegaskan, batuk kronis pada anak tidak boleh dianggap remeh. Apalagi jika disertai sesak, berat badan turun, atau mengganggu tidur malam.
"Batuk kronis pada anak juga bisa disebabkan oleh hal lain, polusi udara. Paparan polusi udara terus-menerus di lingkungan sekitar anak, misalnya asap rokok, debu, atau bahan kimia yang menguap, bisa menyebabkan batuk kronis pada anak," ungkap Dr Noor Zehan.
Dia menambahkan, batuk muncul akibat peradangan saluran napas yang memengaruhi refleks saraf di tenggorokan.
Batuk yang tak kunjung sembuh pada anak juga bisa jadi gejala asma. Tapi soal ini perlu pemeriksaan lebih dalam. "Batuk yang terus menerus pada malam hari, mengganggu kualitas tidur anak dan membuatnya lesu di pagi hari dan bisa mengganggu konsentrasi belajar," sebutnya.
Hati-hati Gunawan Obat Warung
Dr. Noor Zehan mengingatkan perlunya berhati hati menggunakan obat-obat yang dijual bebas atau yang dibeli dari warung.
"Obat obat warung perlu berhati hati. Kadang obat obat ini ada mengandung steroid disalahgunakan sebagai obat "dewa" pereda nyeri.
Steroid biasanya digunakan sebagai obat untuk beragam penyakit. "Tapi tidak betul dan tidak bagus digunakan berkepanjangan. Jadi perlu berhati hati, begitu juga obat racikan, kecuali oleh dokter spesialis," tegasnya.
Orangtua, harus segera membawa ke dokter jika jika batuk pada anak disertai demam tinggi dan panas. "Jika tidak bisa reda dengan obat yang biasa diberikan dalam waktu 24 jam atau 48 jam, serta batuknya makin tinggi dan demamnya makin tinggi, anak harus segera ke dokter," ujarnya.
Tapi, jika batuk itu tidak diiringi demam dan batuknya dalam keseharian, selalu ada batuknya, basah atau kering, jika berlanjut 3 hingga 4 minggu, wajib dirawat dokter. Perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Jika anak kembali sehat dalam waktu 4 hari, dan batuknya muncul kembali, itu kemungkinan batuk biasa, orang tidak perlu khawatir. Hal itu biasa terjadi pada anak berusaha 1 sampai 4 tahun.
"Tetapi jika batuk berdahak, berwarna hijau, itu perlu diperiksa dokter," saran Dr, Noor Zehan.
"Jika batuk anak sudah mendapat perawatan dari dokter umum, namun tidak sembuh, maka harus dirujuk dan dirawat dokter spesialis. Sehingga dapat dilakukan pemeriksaan lebih mendalam," imbuhnya.
Dokter yang biasa berpraktik di RS Sunway, Kuala Lumpur, Malaysia, ini juga mengatakan, pihaknya kerap menangani pasien batuk anak dari keluarga Indonesia.
"Pasien batuk anak yang datang dari Indonesia umumnya mengalami batuk kronis. Penyebabnya, bisa banyak hal. Semisal tinggal di rumah yang kecil dengan jumlah banyak orang. Atau bisa juga paparan udara yang kurang baik," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Noor-Zehan-1-11062026.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.