Buku Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar

Gagal Masuk SMA Favorit, Jokowi Sakit Tipus dan Pendiam

Gagal masuk SMA favorit di Solo, Jokowi sakit tipus, berubah pendiam dan mengurung diri kamar

Gagal Masuk SMA Favorit, Jokowi Sakit Tipus dan Pendiam
TRIBUN JOGYA
Jokowi Naik Becak Menuju Rumah Dinas

Menurut Slamet Suripto, saat itu, SMA 6 adalah SMA negeri terakhir di Solo. SMA 1 sampai SMA 6. Muridnya pun banyak. "Dan muridnya dianggap bodoh. Jadi guru betul-betul ngajar murid bodoh. Tidak seperti SMA 1 yang dikenal sebagai sekolah murid pintar, favorit. SMA 1 sekolah favorit, sedangkan SMA 6 sekolah paling jelek. Dan namanya SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan), jadi orang sering salah sangka, dikira SMP," ujar Slamet. (Baca: Tahukah Anda, Mengapa Jokowi Kurus? Ini Dia Jawabannya)

SMPP semula disiapkan untuk mendidik murid yang mau siap kerja, semacam sekolah menengah kejuruan (SMK) saat ini. Dengan sasaran itu, SMPP dibangun dengan banyak labortorium, misalnya laboratorium kayu, besi, mesin, listrik, IPS (mengetik), dan laboratorium pembukuan.

Akan tetapi, begitu Mendikbud Muhammad Mashuri digantikan Daud Joesof, saat itu semua SMPP disamaratakan menjadi SMA. Lalu nama sekolah SMPP ditulis dalam kurung SMA 6, karena banyak yang mengira SMP.

Selain mengingat sebagai sosok ulet dan rajin belajar, sosok Jokowi semakin membekas di ingatan Slamet karena muridnya itu lulus sebagai juara umum. Slamet Suripto juga mengaku bangga karena dapat melihat sosok pemimpin yang berintegritas, kaya namun tetap jujur dan sederhana, pada sosok Jokowi. Dia bangga karena ketika mengajar, termasuk di kelas Jokowi pada tahun 1978-1980, dia dan guru lainnya, selalu menyelipkan pesan moral.

Setiap guru mengajarkan filsafat kehidupan, mengajarkan kepada setiap anak didiknya untuk tetap berada pada jalur kehidupan yang mulia. Ya, walaupun dia guru Fisika, dia tetap berusaha untuk menyelipkan pendidikan tersebut sebagai bekal berperilaku dan tingkah pola anak didiknya setelah keluar ke masyarakat.

"Dia sudah menjalankan apa yang ada di hati saya. Misalnya menjadi pemimpin jujur, dia sudah jujur. Pemimpin yang memasyarakat, dia sudah memasyarakat. Jadi apa yang saya ajarkan dulu, sudah dia jalankan. Beda misalnya, korupsi. Tidak ada guru ngajari muridnya korupsi," kata pensiunan yang memasuki masa purnabakti pada tahun 2009 ini.

Murdi Suyitno, pensiunan guru Geografi SMA 6 yang pernah mengajar Jokowi, juga membanggakan berkas muridnya itu. "Lulusan dari SMA 6 banyak yang jadi pejabat, selain Jokowi, ada juga yang jadi camat Banjarsari, dan lain-lain," kata Murdi yang menjadi guru sejak 17 Agustus 1959, dan pensiun dari SMA 6 pada tahun 2000. (*)

Baca artikel menarik lainnya

Penulis: Domu D. Ambarita
Editor: Agung Budi Santoso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved