Rusip, bagi yang Suka akan Merindukannya

Begitu nasi hangat bercampur rusip tersantap, rasa asam yang sangat segera menyeruak.

Rusip, bagi yang Suka akan Merindukannya
Kompas/Wisnu Widiantoro
Asam Rusip 

Tribunnews.com - KALAU mau menjajal cita rasa baru, janganlah setengah-setengah. Santaplah hidangan yang punya daftar panjang pujian kelezatan, sekaligus sederet peringatan soal kecocokan takar rasa. Di Bangka, santapan sekelas itu adalah rusip!

Akhmad Elvian tertawa ketika kami menyambut tantangannya untuk mencicipi rusip. Sekali lagi, ia menegaskan apakah benar kami siap menyantap hasil fermentasi ikan bilis (Clupeoides borneensis).

”Jangan salah, tak semua orang Bangka menyukai rasanya. Mencari rusip di kedai-kedai makan di Pangkal Pinang pun susah. Buat yang suka, tentu saja selalu merindukannya,” ujar penulis buku Perang Bangka-Tahun 1812-1851 Masehi itu terkekeh.

Penasaran akan rasa olahan ikan air laut berukuran kecil dan gurih hasil campur tangan bakteri atau mikroorganisme memompa lapar. Elvian mengajak kami menyinggahi kedai makan langganannya, warung lesehan Hj Azizah, di Jalan Pulau Ketawai, Pangkal Pinang.

Siang itu, meja-meja lesehan di warung Hj Azizah padat pengunjung. Kendati tak menyediakan menu siap saji, kesegaran tiap hidangan yang baru diperapikan setelah ada pesanan justru membuatnya jadi incaran banyak warga Pangkal Pinang untuk bersantap siang. ”Kami buka pukul 09.00 dan biasanya tutup pukul 14.00,” tutur Azizah ramah.

Azizah merekomendasikan sejumlah masakan rumahan untuk menemani rusip pesanan kami, terutama aneka lempah kuning ikan kerisi, hapau (kembung), tenggiri, juga lele. Kami akhirnya memilih lempah kuning ikan hapa dan lempah darat, masakan berkuah kuning khas rumahan Bangka yang segar.

Menggenjot selera

Satu demi satu pesanan tersaji. Aroma lempah ikan segar yang menebar harum dari mangkuk-mangkuk besar berkuah kuning segara memenuhi meja. Dipadu dengan harumnya sebakul nasi panas, sambal beraroma pedas, benar-benar membuat ganas. Tapi…, mana rusipnya?

Rusip ikan bilis ternyata muncul belakangan, tiap porsi hanya seukuran tatakan kecil. Sedikit kuahnya menebar aroma asing yang kuat. Begitu nasi hangat bercampur rusip tersantap, rasa asam yang sangat segera menyeruak.

Asam berpadu kesegaran irisan bawang merah dan rasa serai yang tipis itu begitu mencekat, tak sadar tangan buru-buru menyuap nasi hangat berikutnya. Begitu manis nasi hangat menyesak, hasrat menjumput rusip muncul lagi. Aaah, begitu asamnya tergigit, segar tetapi menyengat, membuat tangan segera memburu suapan nasi berikutnya. Menyantap rusip seperti menyantap secobek sambal lalap, pedasnya menyengat meminta ditawarkan, tetapi terus menagih untuk dicocol.

Halaman
12
Tags
Bangka
Editor: Gusti Sawabi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved