Breaking News:

Cegah Stunting, BKKBN Jalin Kerjasama dengan Danone Indonesia

Pemerintah mencanangkan target penurunan angka balita stunting menjadi 14 persen pada 2024.

Shutterstock
Ilustrasi anak saat masa pertumbuhan. 

TRIBUNNEWS.COM - Tantangan baru banyak dihadapi berbagai sektor dalam rangka kemajuan bangsa, di antaranya kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan.

Khususnya pada anak. Sebab, target penanggulangan hambatan kesehatan seperti stunting menjadi semakin terbebani di tengah pandemi covid-19.

Padahal, pemerintah mencanangkan target penurunan angka balita stunting menjadi 14 persen pada 2024.

BKKBN merupakan badan yang telah ditunjuk oleh Presiden Republik Indonesia sebagai Ketua Pelaksana Program Percepatan Penurunan Stunting pada 25 Januari 2021 lalu.

Penurunan angka stunting tentu bukan menjadi tanggung jawab satu instansi, melainkan dibutuhkan kerjasama multipihak untuk mempercepat upayanya, terlebih di tengah pandemi.

Maka dari itu, BKKBN dan Danone Indonesia menandatangani nota kesepahaman dan melakukan sinergi program strategis kedua pihak untuk mencegah stunting.

Baca juga: Tahun Lalu, 156.549 Balita di Jawa Tengah Mengalami Stunting  

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan, tantangan yang serius bagi bangsa untuk menciptakan generasi yang unggul, bahwa kesempatan untuk memetik bonus demografi itu tidak lama.

"Sekarang negara kita ketika masuk di dalam Window Opportunity itu dibutuhkan generasi yang unggul, yang sehat dan tidak stunting. Itu real betul-betul dibutuhkan."

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo di acara Wisuda Angkatan Kedua Akademi Keluarga Hebat Indonesia Tahun 2019 di Kantor Pusat BKKBN, di Jakarta Timur, Kamis (11/12/2019)
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo di acara Wisuda Angkatan Kedua Akademi Keluarga Hebat Indonesia Tahun 2019 di Kantor Pusat BKKBN, di Jakarta Timur, Kamis (11/12/2019) (Tribunnews.com/Apfia Tioconny Billy)

"Memang sekarang ini waktunya, karena kalau sekarang ini tidak mendapatkan kualitas SDM yang baik, ketika kemudian kita sudah tersusul dengan kondisi demografi populasi lansia jauh lebih besar, maka permasalahaannya sudah berubah dan tidak bisa lagi dikoreksi apabila ada kekurangan.Maka ini penting sekali dan Presiden memberi perhatian besar pada kualitas SDM kita,“ kata Hasto.

Baca juga: Peringati Hari Keluarga Nasional, Komisi PRK MUI Gelar Webinar Nasional Cegah Stunting

“Bicara masalah gizi, maka ada hal yang serius, yaitu stunting angka kita masih 27,7 persen, kemudian anemia kekurangan zat besi itu masih sangat dominan padahal anemia ini sangat mudah dikoreksi, tapi kalau kita lihat sekarang ini ibu hamil bisa mencapai 48 persen anemia berdasarkan Riskesdas tahun 2018”, tambah dokter Hasto.

Halaman
123
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved