Peduli Lingkungan Tak Kenal Status Sosial, Kisah Seorang Jurnalis Penggagas Bank Sampah
Karena perumahan tempat tinggalnya kerap banjir yang dipenuhi sampah, Komarudin Bagja menggagas bank sampah dalam upaya pelestarian lingkungan.
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
Willem Jonata
Demikian pula dengan botol air mineral Rp.1.300.
Warga bisa melihat harga terkini beragam item sampah melalui aplikasi.
"Jadi berbeda-beda harganya. Ada yang satu kg Rp 2.000 seperti tutup galon atau tutup botol plastik. Untuk sampah mainan anak-anak juga bisa dihargai. Apapun sampah ada harganya masing-masing," jelas Santani.
Bagi Bagja dan Santani mewariskan hal bermanfaat bagi lingkungan sekitar sudah cukup membahagiakan.
Ada mimpi besar yang masih jadi keinginan jangka panjang Bagja tentang Bank Salih.
Ia berharap bisa memiliki tempat pengolahaan sampah terpadu baik organik dan anorganik.
"Kalau kita upscale di tingkat RW, tempatnya belum ada sambil nunggu perkembangan dan tempat yang memadai. Sehingga sampah apapun yang keluar dari rumah bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis," ungkap Bagja.
Kolabrasi Badja, Santani serta guyub warga sejalan dengan visi-misi Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) yang mengajak generasi muda sadar bahwa kegiatan pelestarian lingkungan, seperti menanam pohon, mengolah sampah bermanfaat bagi generasi mendatang.
Pegadaian Perkuat Komitmen Keberlanjutan melalui FORSEPSI Green Leadership Summit 2024 |
![]() |
---|
Gandeng Kelompok Wanita Tani, Bank Mandiri Ubah Sampah Organik Jadi Sumber Daya Bernilai |
![]() |
---|
Masyarakat Diajak Melakukan Pemilahan Sampah Karena Berdampak Terhadap Kesehatan dan Ekonomi |
![]() |
---|
Tingkatkan Ekonomi, Warga Mekarsari Tangerang Dapat Pelatihan Bank Sampah dan Budidaya Sirih |
![]() |
---|
Pegadaian dan Persit KCK PCBS Kopassus Kolaborasi Luncurkan Program Bank Sampah |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.