Cara Angga Malik D’Essentials Dampingi Anak Generasi Alfa di Era Digital
Angga mengaku banyak belajar dari anaknya, Sheemar Rahman Puradiredja, yang kini aktif bermusik di media sosial dan sering tampil di sekolah
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Vokalis Malik & D’Essentials, Angga Puradiredja, punya pandangan menarik tentang cara mendidik anak di era digital.
Menurutnya, anak zaman sekarang, khususnya Generasi Alfa, tidak bisa lagi diarahkan seperti dulu.
Mereka punya referensi sendiri, cara berpikir sendiri, dan ruang berekspresi yang jauh lebih luas.
Sebagai orang tua, Angga mengaku banyak belajar dari anaknya, Sheemar Rahman Puradiredja, yang kini aktif bermusik di media sosial dan sering tampil di sekolah.
“Sekarang tuh, aktivasi itu justru datang dari dianya. Anak zaman sekarang tuh beda, dulu lebih gampang diarahin. Kalau sekarang udah nggak bisa, sejak dia masuk SD, kelas dua atau tiga SD tuh udah punya cara sendiri mengeksekusi sesuatu,” ujar Angga pada acara konferensi pers Break the Routine, Skip the Screen and Play Together! Parentalk Festival 2025 di Jakarta Selatan, Rabu (7/10/2025).
Baca juga: Selain Acha Septriasa, 4 Artis Ini Kompak Terapkan Pola Asuh Co-parenting Meski Telah Cerai
Belajar Menjadi Pendamping, Bukan Pengendali
Alih-alih menuntun setiap langkah, Angga memilih menjadi pendamping.
Ia membiarkan Shimar menentukan langkah dan keputusan dalam bermusik, mulai dari membuat konten, tampil di acara sekolah, hingga berkarya sendiri.
“Kadang disuruh juga sih, tapi lebih enak kalau kontennya dia yang mau, karena lebih natural aja saya merasa seperti itu,” kata Angga.
Bagi Angga, membiarkan anak menentukan arah bukan berarti lepas tangan.
Sebaliknya, itu bentuk penghormatan pada potensi alami anak.
Ia hanya menjadi tempat bertanya dan berdiskusi, bukan pemberi keputusan.
Menumbuhkan Nilai, Bukan Sekadar Popularitas
Dalam era media sosial, anak-anak kini mudah dikenal luas namun,Angga menegaskan pentingnya keseimbangan antara eksposur dan nilai.
Ia tidak ingin anaknya tumbuh dengan tekanan untuk tampil sempurna, melainkan memiliki dasar yang kuat, integritas, rasa ingin tahu, dan keberanian menilai diri sendiri.
“Yang aku mau dia kan berkembangnya secara natural aja, gak ada support yang terlalu artificial,” ungkapnya.
Bagi Angga, perjalanan bermusik Shimar bukan tentang seberapa cepat terkenal, tapi seberapa dalam ia bisa mengenali dirinya sendiri melalui musik.
Belajar dari Pengalaman Sendiri
Menariknya, Angga baru menyadari minatnya menjadi musisi profesional saat berusia 20 tahun.
Itu pun, katanya, terjadi secara tidak direncanakan sebuah “kecelakaan indah”.
“Aku jadi penyanyi profesional baru kepikiran itu di umur 20 tahun, dan itu juga kejadiannya nggak diprediksi sebelumnya. Jadi emang tanda kutip kecelakaan,” tuturnya.
Dari pengalaman itu, ia ingin memberi ruang pada anaknya untuk menemukan passion tanpa terburu-buru.
Menurutnya, anak yang tumbuh dengan kebebasan dan dukungan emosional akan jauh lebih kuat menghadapi tantangan hidup.
Di tengah derasnya arus digital, Angga percaya bahwa kehadiran orang tua tetap tidak tergantikan.
Anak boleh lebih canggih, tapi mereka tetap butuh figur yang bisa jadi cermin dan tempat pulang.
Bagi Angga, menjadi orang tua di era sekarang bukan soal mendikte masa depan anak, melainkan menjaga api semangatnya agar tidak padam.
“Pada akhirnya, semua balik ke dia. Terserah dia mau jadi penyanyi profesional atau nggak, yang penting dia berkembang dengan bahagia,” tutup Angga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/angga-puradiredja-saat-ditemui-di-kawasan-bsd-tangerang.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.