Dampak Positif dan Negatif Fenomena Remaja Curhat ke AI Ketimbang Orang Tua
Fenomena ini harus disikapi dengan kritis. Di satu sisi juga menjadi peluang dan sisi lainnya adalah tantangan bagi tumbuh kembang remaja.
Ringkasan Berita:
- AI bukan hanya mempermudah pekerjaan, melainkan jadi teman virtual
- Sebagian remaja menjadikan AI sebagai teman curhat ketimbang berbicara dengan orang tua, teman atau guru mereka
- Mencerminkan kesenjangan komunikasi antara remaja dengan orang tua
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kecerdasan Buatan atau AI kini bukan hanya mempermudah pekerjaan, melainkan jadi teman virtual.
Hal ini menyoroti tren banyaknya remaja yang menjadikan AI sebagai teman curhat ketimbang berbicara dengan orang tua, teman atau guru mereka.
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany, menegaskan tren ini harus disikapi dengan kritis. Di satu sisi menjadi peluang dan sisi lainnya adalah tantangan bagi tumbuh kembang remaja.
“Bagi remaja, AI dianggap netral dan tidak menghakimi. Mereka merasa lebih aman mengungkapkan perasaan tanpa takut dimarahi, disalahkan, atau diejek,” jelas Dr Yulina dikutip dari laman IPB di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Kehadiran AI selama 24 jam sebagai teman virtual menyimpan sisi positif karena dapat menyalurkan emosi.
Sayangnya, fenomena ini mencerminkan kesenjangan komunikasi antara remaja dengan orang tua.
Baca juga: 2 Remaja di Tegal Bikin Konten Lompat dari Jembatan Berakhir Hilang Terseret Arus
Jika tidak dikelola dengan baik, curhat kepada AI dapat menimbulkan risiko serius, mulai dari privasi data hingga dampak psikologis.
“Remaja bisa saja mengalami kebocoran data pribadi karena interaksi mereka tersimpan di server penyedia layanan AI,” ujarnya.
Selain itu, ketergantungan pada AI berpotensi menghambat keterampilan sosial remaja. AI yang selalu memberi respons instan membuat remaja kurang belajar mengelola frustasi, menunggu, atau bernegosiasi dengan orang lain.
“Keterampilan empati, membaca ekspresi wajah, dan komunikasi nyata bisa tereduksi jika semua curhat digantikan AI,” tambahnya.
Karena itu peran orang tua dan sekolah sangat penting.
Orang tua perlu membangun komunikasi dua arah, mendengarkan tanpa menghakimi, sekaligus memberikan literasi digital tentang risiko berbagi data pribadi.
“Sesekali tanyakan kepada anak, dengan cara suportif, apa yang ia bicarakan dengan AI. Pendampingan aktif ini krusial agar remaja tidak salah langkah,” tutur Dr Yulina.
Bagi sekolah, integrasi literasi digital dan emosional dalam kurikulum menjadi kebutuhan mendesak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-AI-KECERDASAN-BUATAN-ARTIFICIAL-INTELLIGENCE-123da.jpg)