Selasa, 14 April 2026

Bacaan Doa

Doa Nabi Musa Ketika Menghadapi Firaun dan Kekejamannya

Doa Nabi Musa ketika menghadapi Firaun dapat dibaca ketika seorang muslim menghadapi kesulitan dan memohon pertolongan Allah Swt.

Tribunnews.com
DOA NABI MUSA - Gambar ini didesain Tribunnews di BeFunky, Jumat (5/12/2025). Doa Nabi Musa ketika menghadapi Firaun dapat dibaca ketika seorang muslim menghadapi kesulitan dan memohon pertolongan Allah Swt. 
Ringkasan Berita:
  • Nabi Musa merupakan Nabi dari Bani Israil yang diutus pada masa pemerintahan Firaun.
  • Kisah dan doa-doa Nabi Musa diabadikan di dalam Al-Qur'an.
  • Nabi Musa selalu memohon pertolongan Allah Swt ketika menghadapi kesulitan.

TRIBUNNEWS.COM - Doa Nabi Musa As ketika menghadapi firaun dapat dibaca saat dalam kesulitan.

Nabi Musa As adalah utusan Allah Swt yang diutus kepada Bani Israil pada masa pemerintahan Firaun di Mesir.

Doa-doa Nabi Musa As diabadikan di dalam Al-Qur'an Surat Thaha, Al-Qashash, hingga surat Yunus, sebagai pelajaran bagi umat Islam.

Ibnu Katsir menulis dalam buku Kisah Para Nabi tentang ketabahan Nabi Musa As menghadapi kekejaman Firaun.

Nabi Musa As selalu berdoa kepada Allah Swt agar diberi kemudahan dalam berdakwah.

Doa Nabi Musa Ketika Menghadapi Firaun

Dikutip dari Qur’an Kemenag, di bawah ini doa-doa Nabi Musa As.

1. Doa Mohon Kelancaran Berbicara

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Rabbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam min lisaani yafqohu qoulii

Artinya: "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku." (QS. Thaha: 25-28)

Baca juga: Doa Nabi Adam setelah Diusir dari Surga, Taubat yang Diabadikan dalam Al-Qur’an

2. Doa Mohon Keselamatan dari Orang Zalim

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ عَسَىٰ رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ

Rabb najjini minal qaumi zalimin 'asaa rabbi an yahdiyani sawa' assabil

Artinya: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu. Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar." (QS. Al-Qasas: 21-22)

3. Doa Memohon Kebaikan dan Rezeki

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Rabbi 'inni lima 'anzalta 'ilayya min khair faqir

Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qasas: 24)

4. Doa Mohon Ampunan Allah Swt

رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Qāla rabbi innī ẓalamtu nafsī fagfir lī fa gafara lah, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm

Artinya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Qasas: 16)

5. Doa Ketika dalam Kesulitan 

فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Rabbanā lā taj'alnā fitnatal lil-qaumiẓ-ẓālimīn Wa najjinā biraḥmatika minal-qaumil-kāfirīn

Artinya: "Ya Tuhan kami, kepada Allah kami bertawakal. Janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang yang kafir." (QS. Yunus: 85-86)

6. Doa Mohon Petunjuk dan Tidak Putus Asa

إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

Innna ma‘iya rabbī sayahdīn

Artinya: “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

Kisah Nabi Musa As dalam Al-Qur'an 

Di dalam Al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang mengabadikan kisah Nabi Musa As dan kaum Bani Israil dalam menghadapi Firaun.

Muhammad Mutawalli al-Sha‘rawi dalam buku Khawatiir al-Sha‘rawi menulis bahwa ibu Musa diam-diam menyusui anaknya itu karena Firaun pada masa itu memerintahkan untuk membunuh bayi laki-laki yang diramalkan akan mengakhiri hidupnya.

Allah Swt memberikan petunjuk kepada ibu Musa yang khawatir akan keselamatan bayinya, untuk menghanyutkan Musa di sungai Nil.

"(yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan, (yaitu), letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh (Fir‘aun ) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku." (QS. Thaha: 38-39)

Ibu Musa kemudian menghanyutkan bayinya di dalam kotak ke sungai Nil hingga dipungut oleh istri Firaun. 

Istri Firaun kemudian meminta Firaun mencari wanita yang mau bekerja menyusui bayi itu.

Maryam, saudara perempuan Musa, mengusulkan kepada istri Firaun bahwa ibunya mau menyusui bayi yang ditemukan tersebut, hingga akhirnya Allah Swt mengembalikan Musa kepada ibunya di bawah pengawasan istri Firaun.

"Maka dia (bayi Musa) dipungut oleh keluarga Fir‘aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan istri Fir‘aun berkata, “(Dia bayi ini) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak, sedang mereka tidak menyadari.Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang yang beriman (kepada janji Allah). Dan dia (ibunya Musa) berkata kepada saudara perempuan Musa, “Ikutilah dia (Musa).” Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya. Dan Kami cegah dia (Musa) menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah dia (saudara perempuan Musa), “Maukah aku tunjukkan kepadamu, keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik padanya?”. Maka Kami kembalikan dia (bayi Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya." (QS. Qasas: 8-13)

Seiring berjalannya waktu, Musa tumbuh dewasa dan mulai membela kaumnya, Bani Israil.

"Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir‘aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, “Ini adalah perbuatan setan. Sungguh, dia (setan itu) adalah musuh yang jelas menyesatkan.” (QS. Qasas: 14-15)

Setelah pria tersebut tewas di tangannya, Musa memohon ampun kepada Allah Swt.

Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Qasas: 16)

Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku! Demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, maka aku tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.” (QS. Qasas: 17)

Setelah membunuh pria itu, pada Surat Qasas ayat 18-21 dijelaskan bahwa Musa diminta pergi dari kota itu karena para pembesar negeri hendak membunuhnya, maka pergilah Musa dengan ketakutan. 

"Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan yang sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya." (QS. Qasas: 23)

Musa lalu membantu mereka memberikan minuman ternak dan ia pun mendapat perlindungan di rumah ayah para penggembala itu, yang merupakan Nabi Syuaib.

Nabi Syuaib lalu mempekerjakan Musa sebagai penggembala ternak dan menikahkannya dengan salah seorang putrinya bernama Safura.

Setelah 10 tahun berlalu, Musa teringat kepada keluarganya dan kaumnya yang masih teraniaya oleh kekejaman Fir‘aun sehingga Musa memutuskan untuk kembali ke Mesir dari Madyan dengan membawa keluarganya.

“Maka ketika dia mendatanginya (tempat api itu) dia dipanggil,”Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa. Dan Aku memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang diwahyukan kepadamu. Sungguh Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Sungguh Hari Kiamat itu akan datang. Aku merahasiakan waktunya, agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah diusahakan. Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Hari Kiamat) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa." (QS. Thaha: 11-16)

Dakwah Nabi Musa kepada kaum Fir‘aun dan Bani Israil dijelaskan dalam Surat Al Isra ayat 130-133, yang menyebutkan mereka yang tidak beriman mencemooh Musa dan menuduhnya penyihir.

Adapun kisah tenggelamnya Firaun dan bala tentaranya yang mengejar Nabi Musa dan kaum Bani Israil disebutkan dalam Surat Yunus ayat 90, Qasas ayat 40, Al-Isra ayat 103, dan Ash-Syu‘ara ayat 66.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved