Bacaan Doa
Doa Saat Hujan Turun Agar Mendapat Berkah dari Allah SWT
Muslim dianjurkan berdoa saat hujan turun agar mendapat berkah dari Allah SWT. Hujan merupakan rahmat dan peringatan dari Allah SWT.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Doa saat hujan dibaca untuk memohon keberkahan dari rahmat yang Allah SWT.
Dalam Islam, hujan merupakan berkah yang Allah SWT turunkan ke Bumi, namun dapat juga menjadi peringatan kepada manusia.
“serta Dialah yang meniupkan angin menjadi pembawa informasi gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan)…” (QS Al-A’raaf: 57)
Kementerian Agama menjelaskan bahwa ada dua waktu yang ketika seorang muslim berdoa maka doanya tidak tertolak.
Dari Sahl bin Sa’d, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Ada dua doa yang tidak akan ditolak: doa saat adzan dikumandangkan dan doa saat hujan turun.” (HR. Abu Dawud)
Dalam hadis lain, muslim dianjurkan untuk membaca doa saat hujan, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Saw ketika hujan turun.
“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hujan beliau berdoa: Allaahumma shayyiban naafi’aa (Ya Allah, jadikan curahan hujan ini yang membawa manfaat kebaikan).” (HR. Al-Bukhari).
Dikutip dari buku Kumpulan Doa Sehari-hari terbitan Kemenag, berikut bacaan doa saat hujan.
Doa Saat Hujan
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Allāhumma shayyiban nāfi‘ā
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan yang bermanfaat.”
Baca juga: Doa ketika Mendengar Petir, Dibaca saat Hujan dan Kilat Menyambar
Doa Saat Hujan Disertai Angin Kencang
اَللهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَمَا اُرْسِلَتْ بِهِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّمَا فِيْهَا وَشَرِّمَا اُرْسِلَتْ بِهِ
Allaahumma innii as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih. Wa-a'uudzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bih.
Artinya: "Ya Allah, saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim bersamanya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada di dalamnya, dan kejahatan yang Engkau kirim bersamanya."
Doa Saat Hujan Disertai Petir
سُبْحانَ الَّذي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ"
Subhaanal ladzii yusabbihur ra'du bihamdihii wal malaa-ikatu min khiifatih.
Artinya: "Mahasuci Allah, Yang petir bertasbih dengan memuji kepada-Nya, dan para malaikat takut kepada-Nya."
Doa Setelah Hujan Reda
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
Muthirnaa bifadhlillaahi wa rahmatihi.
Artinya: "Kami telah diberi hujan karunia dan rahmat Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalil Tentang Hujan
Hujan disebutkan dalam Al-Quran dan hadis sebagai rahmat dan juga peringatan Allah SWT kepada manusia, seperti dijelaskan dalam skripsi Hadis Air Hujan antara Rahmat dan Musibah (Kajian Pemahaman Hadis) oleh Teddy Isna Pratama, mahasiswa jurusan Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2023.
Hal ini tergambar dari keterangan hadis Nabi Muhammad Saw yang menunjukkan bahwa hujan dipandang sebagai sesuatu yang suci dan penuh rahmat karena baru saja diturunkan langsung dari Allah.
“Dan telah menceritakan kepada kami Yaḥya bin Yaḥya telah mengabarkan kepada kami Ja'far bin Sulaimān dari Tsābit al Bunānī dari Anas ia berkata; Kami diguyur hujan ketika bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau membuka pakaiannya sehingga terkena hujan, lalu kami pun bertanya, "Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan hal itu?" beliau menjawab: "Karena hujan ini baru saja turun dari tuhannya." (HR. Muslim, no. 898)
Makna hujan sebagai rahmat juga ditegaskan dalam Al-Qur’an, yang menggambarkan air hujan sebagai sumber keberkahan.
"Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen." (QS. Qaf: 9)
Namun demikian, hujan tidak selalu membawa kebaikan. Dalam kondisi tertentu, hujan yang turun secara berlebihan dapat berubah menjadi musibah dan menjadi peringatan dari Allah.
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqātil berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah bin Al Mubārak berkata, telah mengabarkan kepada kami Al Auza'i berkata, telah menceritakan kepada kami Isḥāq bin 'Abdullah bin Abū Ṭalḥah al Anṣarī berkata, telah menceritakan kepadaku Anas bin Mālik berkata:
"Di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam manusia pernah terkena musibah paceklik kekeringan. Pada hari Jum'at ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedang memberikan khutbah, tiba-tiba seorang Arab badui berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan telah terjadi kelaparan, maka berdo'alah kepada Allah agar menurunkan hujan untuk kita!" Anas bin Mālik berkata, "Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya. Dan saat itu tidak sedikitpun ada awan di langit."
Anas bin Mālik melanjutkan perkataannya, "Maka awan seperti gunung bergerak. Beliau belum lagi turun dari mimbarnya hingga aku melihat air hujan membasahi jenggotnya. Maka pada hari itu kami mendapatkan hujan hingga esok harinya dan lusa, hingga hari Jum'at berikutnya. Pada hari Jum'at berikut itulah orang Arab badui tersebut, atau orang yang lain berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, banyak bangunan yang roboh, harta benda tenggelam dan hanyut, maka berdo'alah kepada Allah untuk kami!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berdoa dengan mengangkat kedua telapak tangannya: 'ALLAHUMMA HAWAALAINAA WA LAA 'ALAINAA (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeling kami saja dan jangan sampai menimbulkan kerusakan kepada kami) '. Belum lagi beliau memberikan isyarat dengan tangannya ke langit, awan tersebut telah hilang. Saat itu kota Madinah menjadi seperti danau dan aliran-aliran air, bahkan tidak mendapatkan sinar matahari selama satu bulan." Anas bin Mālik berkata, "Tidak ada satupun orang yang datang dari segala pelosok kota kecuali akan menceritakan tentang terjadinya hujan yang lebat tersebut.” (HR. Bukhari, no. 1033)
Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw berdoa kepada Allah SWT dengan kerendahan hati dan lemah lembut ketika memohon agar hujan yang membawa kerugian dipindahkan ke sekelilingnya agar tidak menimbulkan kerusakan.
Larangan Saat Hujan
Dalam Islam, muslim dilarang mengutuk apapun yang terjadi karena kehendak Allah SWT, termasuk saat hujan turun.
Berikut hal-hal yang dilarang bagi muslim ketika hujan turun.
1. Mengutuk hujan dan menganggapnya kesialan
Hujan merupakan rahmat yang Allah SWT turunkan dari langit, maka umat Islam dilarang mencela hujan.
“Allah berfirman: 'Pada pagi ini ada hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan yang kafir kepada-Ku. Siapa yang berkata: Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang. Dan siapa yang berkata: Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu, maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Bukhari no. 846, Muslim no. 71)
2. Menghindari hujan karena membencinya
Ketika hujan turun, banyak manusia yang berupaya untuk menghindarinya agar tidak basah dan sakit.
Hal tersebut tidak apa-apa, karena yang dilarang adalah merasakan kebencian ketika hujan turun atau meremehkannya.
Anas bin Malik berkata: “Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah, lalu beliau membuka bajunya hingga terkena hujan.” Lalu beliau bersabda, “Karena hujan ini baru saja diciptakan oleh Rabbku.” (HR. Muslim no. 898)
3. Mencela hujan dan angin
Muslim dilarang mencela hujan dan angin yang Allah SWT turunkan ke Bumi, dan Rasulullah Saw menganjurkan muslim untuk berdoa ketika melihat hal yang tidak disukainya.
Rasulullah Saw bersabda: "Janganlah kalian mencela angin, maka apabila kalian melihat sesuatu yang tidak kalian sukai, maka ucapkanlah: 'Allahumma inna nas’aluka min khairi hadzihir riihi, wa khairi maa fihaa, wa khairi maa umirat bihi. Wa na’udzu bika min syarri hadzihir riihi, wa syarri maa fihaa, wa syarri maa umirat bihi.'” (HR. Tirmidzi no. 2252, shahih menurut al-Albani)
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.