Bacaan Doa
Al-Kahfi Ayat 1-10, Dibaca di Hari Jumat untuk Perlindungan dari Dajjal
Al-Kahfi ayat 1-10 dapat dibaca di hari Jumat untuk memohon perlindungan dari fitnah Dajjal. Ulama berpendapat Al-Kahfi ayat 1-10 harus dipahami.
Imam al-Alūsī dalam Rūh al-Ma‘ānī menjelaskan:
“Sayyidinā Ḥasan Ibn ‘Alī sebagaimana diriwayatkan oleh Abū ‘Ubaid dan Imām al-Baihaqī dari Umī Mūsa, ia membaca surah alKahf setiap malam. Imām al-Alūsī juga menjelaskan dalam tafsir al Ma‘ānī-nya bahwa ada ulama yang mengamalkan membaca lima ayat terakhir dari surah al-Kahf pada saat akan tidur dengan memperoleh keutamaan akan bangun pada waktu yang diinginkan, amalan ini pun dianjurakan oleh Imām al-Alūsī untuk diamalkan.”
Hubungan Al-Kahfi Ayat 1-10 dan Hari Jumat
Dalam skripsi Korelasi Antara Surah Al-Kahf/18:1–10 dengan Hadis-hadis Faḍāil Al-Suwar (Studi Analisis Terhadap Tafsir Rūḥ Al-Ma‘ānī Karya Imam Al-Alūsī) oleh Ningsih, mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2021), dijelaskan hubungan Surat Al-Kahfi ayat 1-10 dengan hari Jumat.
Hadis sahih riwayat Imam Muslim dan lainnya menyebutkan bahwa orang yang menghafal sepuluh ayat pertama Surah Al-Kahfi akan terlindungi dari fitnah Dajjal.
Namun, dalam kitab-kitab tafsir klasik seperti Rūḥ al-Ma‘ānī, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Jalalain, tidak ditemukan penjelasan langsung yang secara tekstual mengaitkan QS Al-Kahfi ayat 1–10 dengan fitnah Dajjal.
Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah hadis tersebut hanya menjelaskan keutamaan menghafal ayat, atau juga mengandung penjelasan makna ayat sebagaimana fungsi hadis sebagai penafsir Al-Qur’an?
Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa perlindungan dari fitnah Dajjal diperoleh oleh orang yang merenungi ayat-ayat awal Al-Kahfi, bukan sekadar menghafal atau membacanya.
Ini memberi isyarat bahwa makna dan pengamalan ayat-ayat tersebutlah yang menjadi kunci perlindungan, bukan hanya hafalan secara literal.
Berdasarkan penafsiran Imam al-Alūsī terhadap QS Al-Kahfi ayat 1–10, terdapat beberapa poin penting yang dapat dikaitkan dengan hadis tersebut:
1. Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup
Orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman akan terhindar dari penyimpangan dan kemaksiatan.
Fitnah Dajjal hakikatnya adalah ajakan untuk mendurhakai Allah, sehingga berpegang teguh pada Al-Qur’an menjadi benteng utama.
2. Menghafal dan membaca Al-Qur’an adalah amal saleh
Menghafal Al-Qur’an termasuk perbuatan baik yang bernilai amal saleh.
Anjuran menghafal ayat 1–10 Al-Kahfi sejalan dengan dorongan untuk terus melakukan amal saleh.
3. Fitnah Dajjal adalah bentuk kedurhakaan besar
Penafsiran kata ‘iwaj (kebengkokan) menunjukkan bahwa penyimpangan dari kebenaran dapat dihindari dengan mengikuti Al-Qur’an.
Fitnah Dajjal merupakan puncak dari kebengkokan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SURAT-AL-KAHFI-ayat-1-10-2artat34534.jpg)