Gejolak Rupiah
Orang Desa Tak Pakai Dollar: Harga Oli dan Onderdil di Blora Naik, Untung Pengusaha Tempe Menipis
Rupiah tembus Rp17.750 per dollar AS, bengkel hingga perajin tempe di desa mulai terpukul kenaikan harga impor.
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mekenag dan mulai berdampak pada pelaku usaha kecil di daerah.
- Pemilik bengkel di Blora mengaku harga oli, ban, dan onderdil motor naik 10 hingga 30 persen dalam tiga bulan terakhir.
- Perajin tempe di Banyumas juga terdampak karena harga kedelai impor dari AS naik dari Rp10 ribu menjadi Rp10.600 per kilogram.
- Pelaku UMKM mengeluhkan keuntungan makin menipis akibat bahan baku dan plastik kemasan ikut naik, sementara harga jual sulit dinaikkan.
TRIBUNNEWS.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) melemah dan mulai berdampak hingga ke pelaku usaha di desa-desa.
Mengutip laman Bank Mandiri, per hari ini, Rabu (20/5/2026), nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS mencapai Rp17.750.
Dampak naiknya rumah juga sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu dan kini mulai berdampak ke masyarakat.
Seorang pelaku usaha bengkel Cahaya Motor Blora, Andika Putra Wijaya mengatakan, anjloknya Rupiah ini berdampak pada kenaikan harga oli, ban, hingga onderdil sepeda motor.
Bahkan ia mengatakan, kenaikan tersebut sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir.
Kepada TribunJateng.com, ia menuturkan kenaikan tersebut karena barang dagangannya adalah barang impor.
"Semua barang besi-besi, barang cairan dari minyak semua naik. Bahan oli, logam-logam naik semua karena minyak bumi naik," ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Kenaikannya beragam, mulai dari 10 hingga 30 persen.
Produk oli dan onderdil motor, lanjut Andika, menjadi barang dengan lonjakan tertinggi.
"Kenaikan sampai 20 persen, 25 persen bahkan ada yang 30 persen. Kalau ban itu naiknya 10 persen," katanya.
Ia menuturkan, bengkelnya menjual oli, ban motor, dan onderdil motor.
Baca juga: PDIP: Pernyataan Prabowo soal Rakyat Desa Tak Pakai Dollar Tidak Tepat
Hampir semua produk yang dijualnya tersebut mengalami kenaikan harga.
"Kalau ban mungkin sekitar 10 persen, tapi rata-rata barang lain naik 20 sampai 30 persen," terangnya.
Atas kenaikan harga tersebut berdampak pada turunnya daya beli masyarakat.
Dalam beberapa waktu terakhir, pelanggan yang datang ke tokonya turun drastis.