Senin, 13 April 2026

Tren Parenting Berbasis Sains, Edutrip Jadi Metode Belajar Anak Generasi Alpha

Pola asuh anak terus berevolusi mengikuti perubahan zaman.  Kini tren parenting berbasis sains semakin menguat.

Penulis: Eko Sutriyanto
HO/IST/istimewa
PENGASUHAN BERBASIS SAINS - Pola asuh anak terus berevolusi mengikuti perubahan zaman. Jika sebelumnya banyak orang tua berfokus pada pencapaian akademik semata, kini tren parenting berbasis sains semakin menguat, khususnya pada Generasi Alpha—anak-anak yang lahir dan tumbuh di era digital dengan akses informasi yang luas dan paparan teknologi sejak dini. 
Ringkasan Berita:
  • Tren parenting berbasis sains kian menguat pada Generasi Alpha, menekankan keseimbangan nutrisi, stimulasi, dan dukungan emosional sejak dini
  • Edutrip ke destinasi seperti Hong Kong Science Museum menghadirkan pembelajaran STEM yang interaktif
  • Ahli menilai fondasi nutrisi dan eksplorasi membantu membentuk anak tangguh dan kritis.

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pola asuh anak terus berevolusi mengikuti perubahan zaman. 

Jika sebelumnya banyak orang tua berfokus pada pencapaian akademik semata, kini tren parenting berbasis sains semakin menguat, khususnya pada Generasi Alpha—anak-anak yang lahir dan tumbuh di era digital dengan akses informasi yang luas dan paparan teknologi sejak dini.

Baca juga: Curhat Artika Sari Devi Hadapi Tantangan Besar Jadi Ibu Gen Z dan Gen Alpha

Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara nutrisi, stimulasi kognitif, serta dukungan emosional sejak usia dini.

Berbagai studi perkembangan anak menunjukkan bahwa periode emas 1.000 hari pertama kehidupan berperan krusial dalam membentuk fondasi kecerdasan, imunitas, hingga karakter jangka panjang.

Artinya, kualitas pengasuhan dan asupan nutrisi di fase awal kehidupan akan sangat menentukan kesiapan anak menghadapi tantangan masa depan.

Baca juga: Potensi Generasi Alpha dan Beta Bisa Terasah dengan Metode Belajar Multi-Learning Connection

Dalam praktiknya, metode experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman kian diminati.

Orang tua kini tidak hanya mengandalkan pembelajaran formal di sekolah, tetapi juga menghadirkan stimulasi melalui kunjungan ke museum, pusat sains, hingga program edutrip luar negeri yang memberi ruang eksplorasi langsung.

Destinasi seperti Hong Kong Science Museum dan Hong Kong Space Museum menawarkan instalasi interaktif yang memperkenalkan konsep STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) secara aplikatif dan menyenangkan.

Medical Affairs Director Danone Indonesia, dr. Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan bahwa masa kanak-kanak awal merupakan periode yang sangat krusial dalam perkembangan anak.

“Lebih dari 70 persen sel imun berada di saluran cerna, sehingga menjaga keseimbangan mikrobiota menjadi kunci dalam meningkatkan daya tahan tubuh anak. Nutrisi seperti prebiotik FOS:GOS, DHA, dan EPA berperan penting dalam mendukung perkembangan otak serta fungsi kognitif,” ujarnya saat peluncuran program Winner’s Squad Adventure to Hong Kong di Jakarta belum lama ini.

Program edutrip berbasis sains tersebut dirancang untuk mengajak anak dan orang tua merasakan langsung sinergi antara nutrisi seimbang dan stimulasi berbasis sains dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Ray, ketika fondasi nutrisi terpenuhi, anak memiliki kesiapan fisik dan mental yang lebih baik untuk bereksplorasi dan menyerap stimulasi.

“Nutrisi bukan hanya memberikan perlindungan, tetapi juga mempersiapkan tubuh dan otak anak agar mampu memaksimalkan setiap pengalaman belajar,” tambahnya.

Dari sisi psikologis, Aninda, S.Psi., M.Psi.T., Praktisi Psikologi Anak Usia Dini, menilai stimulasi berbasis sains melalui eksplorasi, eksperimen, dan permainan sensorik membantu mengembangkan kemampuan kognitif, emosional, dan sosial secara seimbang.

Ia mencontohkan pengalaman dalam program tersebut. Di Hong Kong Children’s Discovery Museum, anak mendapat stimulasi melalui hands-on learning dan permainan peran yang mendorong kemampuan problem solving serta regulasi emosi.

Sementara di Hong Kong Zoological & Botanical Gardens, anak belajar melalui observasi langsung terhadap flora dan fauna yang menumbuhkan empati, kepekaan sensorik, dan pemahaman hubungan antar makhluk hidup.

“Kombinasi stimulasi yang tepat dan dukungan nutrisi dari rumah membantu membangun karakter anak yang tangguh, percaya diri, kritis, dan penuh rasa ingin tahu,” jelasnya.

Kolaborasi industri nutrisi dan ritel modern seperti Indomaret turut memperluas akses keluarga terhadap program edukatif yang terintegrasi dengan dukungan nutrisi.

Fenomena ini menandai pergeseran paradigma pengasuhan di Indonesia.

Orang tua tidak lagi sekadar mengejar nilai akademik, tetapi membangun ekosistem tumbuh kembang yang menyatukan sains, nutrisi, dan pengalaman nyata. Parenting berbasis sains pun diproyeksikan menjadi arus utama dalam membentuk generasi yang adaptif, kritis, dan siap menghadapi kompleksitas masa depan.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved