Bacaan Doa
Doa Gerhana Bulan dan Amalan Sunah Memuji Kebesaran Allah SWT
Muslim dianjurkan memperbanyak doa gerhana bulan dan amalan sunah untuk memuji kebesaran Allah SWT yang berkehendak atas gerhana bulan dan matahari.
Ringkasan Berita:
- Ketika gerhana bulan maupun matahari, muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa, dzikir, dan amalan lain.
- Gerhana merupakan pengingat akan tanda kebesaran Allah SWT.
- Amalan yang dapat dikerjakan saat gerhana yaitu doa, dzikir, sholat khusuf/sholat gerhana, bersedekah, dll.
TRIBUNNEWS.COM - Gerhana bulan dan gerhana matahari terjadi karena posisi Bumi, Bulan, dan Matahari berada dalam satu garis lurus.
Dalam pandangan Islam, gerhana bulan dan matahari merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Gerhana bulan dan matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW, di mana beliau menyerukan kepada umat Islam untuk memperbanyak dzikir kepada Allah SWT.
Penduduk Arab pada masa jahiliyah percaya bahwa gerhana terjadi karena kematian tokoh penting, seperti ketika putra Rasulullah SAW dari selain Khadijah, Ibrahim putra Mariah al-Qibtiyyah, yang kematiannya bertepatan dengan gerhana matahari.
Rasulullah SAW meluruskan bahwa gerhana terjadi karena kehendak Allah SWT, bukan karena kematian tokoh.
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid berkata, telah menceritakan kepada kami Zaidah berkata, telah menceritakan kepada kami Ziyad bin 'Alaqah berkata, "Aku mendengar Al Mughirah bin Syu'bah berkata, "Telah terjadi gerhana matahari ketika wafatnya Ibrahim. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan ia tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka berdoalah kepada Allah dan dirikan salat hingga (matahari) kembali nampak." (HR. Bukhari Nomor 1060)
Dikutip dari publikasi Kementerian Agama, berikut bacaan doa gerhana bulan.
Doa Gerhana Bulan
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Astaghfirullāhal ‘azhīm, Subhānallāh, walhamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘azhīm.
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Baca juga: Doa Niat Sholat Gerhana Bulan dan Tata Cara Sholat Khusuf
Tuntunan Islam Ketika Terjadi Gerhana
Kementerian Agama mengingatkan muslim di Indonesia untuk mengingat ajaran Rasulullah SAW ketika terjadi gerhana bulan maupun gerhana matahari.
Dirangkum dari website Kementerian Agama, berikut hal yang dapat dilakukan muslim ketika gerhana matahari atau gerhana bulan.
- Menghadirkan rasa takut dan tunduk kepada Allah karena gerhana mengingatkan pada tanda-tanda kiamat dan potensi azab akibat dosa.
- Mengingat apa yang diperlihatkan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ saat salat kusuf—surga dan neraka—sehingga mendorong umat untuk lebih banyak menangis, takut, dan introspeksi.
- Menyerukan panggilan “Ash-shalaatu Jaami’ah” sebagai ajakan melaksanakan salat gerhana secara berjamaah.
- Tidak menggunakan azan dan iqamah, karena keduanya khusus untuk salat fardu lima waktu.
- Disunahkan mengeraskan bacaan surat, baik dilakukan siang maupun malam, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
- Dianjurkan dilaksanakan di masjid secara berjamaah, meski tetap sah jika dilakukan sendiri.
- Wanita diperbolehkan ikut salat berjamaah dan berada di barisan belakang laki-laki.
- Disunahkan memanjangkan bacaan surat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi dan kemampuan jamaah.
- Dianjurkan menyampaikan satu khutbah setelah salat, sebagaimana praktik Nabi ﷺ, meski ada perbedaan pendapat ulama.
- Memperbanyak istigfar, zikir, doa, takbir, sedekah, serta memohon perlindungan dari azab neraka dan kubur.
Amalan Ketika Gerhana Bulan
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengimbau muslim untuk mengerjakan amalan-amalan ketika terjadi gerhana bulan maupun gerhana matahari.
Dikutip dari website Komdigi, berikut amalan yang dapat dilakukan ketika terjadi gerhana.
1. Perbanyak Dzikir, Istighfar, Takbir, dan Ketaatan Lainnya
Muslim dianjurkan untuk memperbanyak dzikir ketika terjadi gerhana sebagai pengingat akan kebesaran Allah SWT.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)
2. Mengerjakan Sholat Gerhana
Hadis dari ’Aisyah menyebutkan bahwa ketika terjadi gerhana, Nabi SAW segera menuju tempat salatnya di masjid dan menunaikan salat di sana.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW keluar menuju masjid, lalu beliau berdiri dan bertakbir, dan orang-orang pun berbaris di belakang beliau...” (HR. Bukhari no. 1050)
Riwayat lain juga menegaskan bahwa beliau mendatangi masjidnya untuk melaksanakan salat gerhana.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tuntunan Nabi SAW adalah melaksanakan salat gerhana di masjid. Seandainya bukan demikian, tentu lebih mudah dilakukan di tanah lapang agar dapat melihat berakhirnya gerhana.
Adapun tentang berjamaah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin menegaskan bahwa berjamaah bukanlah syarat. Seseorang tetap boleh melaksanakannya sendiri di rumah.
Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah”. (HR. Bukhari no. 1043)
Hadis ini tidak menyebutkan perintah khusus untuk salat di masjid, sehingga menunjukkan bahwa salat gerhana tetap sah meski sendirian.
Namun, melaksanakannya secara berjamaah di masjid lebih utama karena itulah yang dicontohkan Nabi SAW, serta lebih menambah kekhusyukan dan peluang dikabulkannya doa.
3. Wanita Boleh Shalat Gerhana Bersama Kaum Pria
Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata, “Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari no. 1053)
Imam Muhammad al-Bukhari bahkan membuat bab berjudul “Shalat wanita bersama kaum pria ketika terjadi gerhana matahari” sebagai penegasan bolehnya hal tersebut.
Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, judul bab itu merupakan bantahan terhadap pendapat yang melarang wanita salat gerhana berjamaah bersama pria dan mewajibkan mereka salat sendiri.
Kesimpulannya, wanita boleh salat gerhana berjamaah di masjid.
Namun, jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah, maka lebih baik dilaksanakan sendiri di rumah.
4. Menyeru Jama’ah dengan Panggilan ’Ash sholatu jaami’ah’ dan Tidak Ada Adzan maupun Iqomah
Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan, “Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901) . Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana.
5. Disunahkan Berkhutbah Setelah Shalat Gerhana
Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat berpendapat bahwa muslim yang melakukan sholat gerhana berjamaah, dianjurkan untuk menyampaikan khutbah setelahnya.
Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.
Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”
Nabi selanjutnya bersabda, “Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari, no. 1044)
Khutbah yang dilakukan adalah dua kali khutbah sebagaimana pada Khutbah Jumat dan Khutbah Ied.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/DOA-GERHANA-BULAN-dftertb54634.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.