Tak Bersemangat Usai Libur Lebaran, Begini Cara Menghadapinya Menurut Psikiater
Kondisi ini termasuk dalam adjustment related emotional response, yaitu respons adaptasi terhadap perubahan situasi hidup.
Ringkasan Berita:
- Post-Holiday Blues adalah fenomena psikologis yang wajar terjadi setelah periode waktu menyenangkan berakhir. Usai liburan seseorang merasa hampa tak bersemangat menghadapi aktivitas
- Kondisi ini termasuk dalam adjustment related emotional response, yaitu respons adaptasi terhadap perubahan situasi hidup
- Jika tidak ditangani dengan tepat, Post-Holiday Blues bisa mempengaruhi produktivitas dan kesejahteraan mental
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Setelah libur Lebaran selesai, tidak sedikit orang merasa semangatnya menurun, mood drop, dan enggan kembali ke rutinitas sehari-hari.
Kondisi ini dikenal sebagai Post-Holiday Blues, fenomena psikologis yang wajar terjadi setelah periode waktu menyenangkan berakhir.
Psikiater Lahargo Kembaren, menjelaskan, perasaan hampa atau kehilangan energi ini sebenarnya bagian dari proses adaptasi otak dan emosi.
“Post-Holiday Blues adalah reaksi emosional sementara yang muncul segera setelah berakhirnya waktu yang menyenangkan, seperti liburan panjang. Secara psikologi, kondisi ini termasuk dalam adjustment related emotional response, yaitu respons adaptasi terhadap perubahan situasi hidup,” kata dia di Jakarta, Kamis (26/3).
Baca juga: Child Grooming Seperti Kisah Aurelie Moeremans Terjadi Perlahan, Psikiater Jelaskan Penyebabnya
Namun, jika tidak ditangani dengan tepat, Post-Holiday Blues bisa mempengaruhi produktivitas dan kesejahteraan mental.
Berikut saran psikiater untuk menghadapi kondisi ini:
1. Menerima Perasaan
Sadari menerima rasa lelah, malas, atau hampa serta menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Menolak emosi justru membuat post holiday blues bertahan lebih lama.
2. Mulai Perlahan
Hari pertama kembali ke rutinitas, lakukan tugas ringan saja. Jangan langsung membebani diri dengan pekerjaan berat.
“Jangan terlalu berat menjalani aktivitas, lakukan tugas ringan dan perlahan. Ini membantu sistem saraf beradaptasi kembali,” ungkap dokter spesialis lulusan Universitas Indonesia ini.
3. Bangun Kembali “Dopamine” Secara Sehat
Hindari scroll media sosial berlebihan. Lebih baik berolahraga ringan, melakukan aktivitas bermakna, interaksi sosial sehat, menjalankan hobi yang menyenangkan.
4. Jangan Terlalu Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Media sosial sering menampilkan sisi terbaik orang lain. Fokus pada perjalanan dan pencapaian pribadi.
5. Miliki Tujuan Hidup yang Jelas
Rutinitas sehari-hari akan terasa lebih ringan jika kita punya tujuan. Liburan memberi kebahagiaan sementara, tapi tujuan hidup memberi alasan untuk bangun setiap pagi.
“Liburan memberi rasa bahagia, tapi tujuan hidup memberi alasan untuk bangun setiap pagi,” kata dr. Lahargo.
Kapan Harus Waspada?
Segera evaluasi lebih lanjut jika, perasaan sedih berlangsung lebih dari 2 minggu, kehilangan minat semakin berat, gangguan pola tidur dan selera makan hingga performa menurun.
Kondisi ini bisa mengarah pada gejala depresi ringan dan memerlukan perhatian profesional.
Ia mengatakan, liburan menunjukkan seperti apa hidup yang diinginkan, sementara rutinitas memberi kesempatan untuk membangun secara nyata.
“Liburan itu jeda tapi hidup adalah perjalanan. Jangan hanya menunggu momen bahagia, belajarlah menciptakannya setiap hari,” pesan dr Lahargo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-LEMAS-Gambar-ilustrasi-y.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.