Selasa, 12 Mei 2026

Penanganan Darurat Hipotermia pada Anak Saat Berada di Gunung

Tidak semua usia anak siap diajak ke lingkungan ekstrem. Menurut dr Yogi, anak di bawah tiga tahun memiliki risiko yang jauh lebih tinggi.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
HO/IST
BAYI HIPOTERMIA - Bayi di Gunung Ungaran sempat dikira hipotermia, tim SAR beri selimut darurat, kondisi dipastikan aman 
Ringkasan Berita:
  • Di gunung, tubuh anak lebih cepat kehilangan panas dan cairan, sehingga lebih rentan mengalami hipotermia. Jadi, jangan menyamakan kemampuan fisik anak dengan orang dewasa
  • Dengan kata lain, di lingkungan dingin seperti gunung, kondisi ini bisa mempercepat terjadinya hipotermia
  • Jika anak mengalami hipotermia di gunung, tindakan cepat sangat diperlukan. Salah satu metode yang bisa dilakukan adalah menghangatkan tubuh anak secara langsung

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Hipotermia pada anak saat berada di gunung adalah kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Emergensi dan Terapi Intensif Anak IKatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Yogi Prawira, mengingatkan bahwa orangtua harus memahami langkah dasar penanganannya.

Menurut dr Yogi, kesalahan terbesar yang sering terjadi adalah menyamakan kemampuan anak dengan orang dewasa.

“Jadi secara prinsip kan, anak itu bukan dewasa kecil gitu. Jadi jangan orang tua berasumsi anak itu sama tahannya dengan dia,"ungkapnya pada awak media usai acara Penanganan Emergensi pada Anak dan Pelatihan Praktis untuk Jurnalis yang diselenggarakan IDAI di Hotel Shangri-La Jakarta, Senin (13/4/2026).

Baca juga: Detik-detik Evakuasi Balita di Gunung Ungaran: Petugas Bantah Kondisi Hipotermia, Orang Tua Cekcok

Tubuh anak lebih cepat kehilangan panas dan cairan, sehingga lebih rentan mengalami hipotermia.

Anak memiliki frekuensi napas lebih tinggi, yang membuatnya lebih cepat kehilangan cairan dan panas tubuh.

Di lingkungan dingin seperti gunung, kondisi ini bisa mempercepat terjadinya hipotermia.

Karena itu, penting memastikan anak tetap terhidrasi dan suhu tubuhnya stabil. Baik terlalu dingin maupun terlalu panas sama-sama berbahaya bagi anak.

Langkah Darurat Saat Anak Hipotermia

Jika anak mengalami hipotermia di gunung, tindakan cepat sangat diperlukan. Salah satu metode yang bisa dilakukan adalah menghangatkan tubuh anak secara langsung.

“Bisa skin to skin, dibuka bajunya, tempelin kulit ke kulit gitu. Baru di luarnya baru pakai baju. Pastikan kering semua gitu misalnya.”

Metode ini membantu menaikkan suhu tubuh anak dengan cepat melalui panas tubuh orangtua.

Selain itu, memastikan tubuh anak tetap kering juga sangat penting.

Selain penanganan darurat, kesiapan orangtua sebelum berangkat juga tidak kalah penting. Mulai dari memahami pertolongan pertama hingga mengetahui kebutuhan dasar anak di alam terbuka.

Dr Yogi menekankan pentingnya pendekatan bertahap.

“Dan kalau mau memulai mengenalkan dengan alam, itu ya start low go slow gitu ya. Jangan mulai dari naik gunung yang tinggi.”

Artinya, orangtua perlu mengenalkan anak pada aktivitas ringan terlebih dahulu sebelum mencoba yang lebih menantang.

Anak di Bawah 3 Tahun Sangat Rentan

Tidak semua usia anak siap diajak ke lingkungan ekstrem. Menurut dr Yogi, anak di bawah tiga tahun memiliki risiko yang jauh lebih tinggi.

“Jadi nggak ada umur khusus sebenarnya ya, boleh umur berapa gitu. Tapi yang harus kita tahu di bawah 3 tahun itu memang sangat rentan.”

Karena itu, keputusan membawa anak ke gunung harus dipertimbangkan dengan sangat matang.

Dalam kondisi darurat di alam, akses ke fasilitas kesehatan sangat terbatas. Karena itu, pengetahuan dasar orangtua menjadi sangat penting.

Mulai dari mengenali gejala hingga melakukan penanganan awal, semua bisa menjadi penentu keselamatan anak. Pada akhirnya, bukan hanya soal membawa anak ke alam, tetapi juga memastikan mereka tetap aman di dalamnya.

(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved