Ayah Tak Hadir Secara Emosional, Anak Mudah Terjebak Rayuan Predator Seksual
Fenomena fatherless atau minimnya kehadiran emosional ayah dalam keluarga ternyata disebut berkaitan dengan kerentanan anak menjadi korban kekerasan
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Indonesia dianggap negara fatherless atau minimnya kehadiran emosional ayah dalam keluarga.
- Fenomena ini, disebut berkaitan dengan tingginya kerentanan anak menjadi korban kekerasan seksual.
- Banyak anak korban kekerasan seksual berasal dari keluarga yang kehilangan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Fenomena fatherless atau minimnya kehadiran emosional ayah dalam keluarga ternyata disebut berkaitan dengan tingginya kerentanan anak menjadi korban kekerasan seksual.
Hal ini diungkapkan Intan Hadiah Rastiti, SH dari Yayasan KAKAK berdasarkan pengalaman pendampingan korban selama bertahun-tahun.
Baca juga: Upaya Mawar De Jongh Dalami Peran Anak Fatherless di Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?
Menurut Intan, banyak anak korban kekerasan seksual berasal dari keluarga yang kehilangan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional.
“Indonesia itu negara yang fatherless. Ada bapaknya, tapi nggak ada jiwanya,” ujar Intan dalam podcast Momspiration yang tayang secara langsung di YouTube Tribunnews dan Tribun Health, Senin (11/5/2026).
Ia menegaskan, kondisi tersebut bukan sekadar teori, tetapi terlihat jelas dalam data kasus yang mereka dampingi.
“Kalau ngomongin data, anak-anak kami 90 persen berasal dari keluarga yang broken,” katanya.
Namun ia menekankan bahwa keluarga broken bukan satu-satunya penyebab.
“Dari 10 persen yang tersisa, ayahnya ada tapi tidak ada perannya,” ujarnya.
Menurut Intan, anak yang tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan ayah menjadi lebih rentan mencari validasi dari laki-laki lain di luar rumah.
“Anak-anaknya tidak punya figur ayah. Dia lebih rentan dengan kekerasan seksual,” katanya.
Anak akhirnya mudah merasa spesial ketika mendapat perhatian sederhana dari laki-laki dewasa.
“Ketika dia melakukan pujian kepada aku itu sesuatu yang luar biasa,” ujar Intan.
Ia menggambarkan, pujian sederhana dari ayah sebenarnya memiliki dampak psikologis besar bagi anak.
“Kalau ayahnya tiap hari bisa puji kan gratis gitu,” katanya.
Namun dalam banyak keluarga, ayah hanya fokus mencari nafkah dan merasa tugasnya selesai di sana.
“Ada juga bapak-bapak ngomong gini, kan saya sibuk kerja, sibuk cari duit untuk anak,” ujar Intan.
Padahal menurutnya, anak tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga kedekatan emosional.
Intan menilai, perhatian kecil dari ayah bisa menjadi benteng penting agar anak tidak mudah terjebak rayuan predator seksual.
“Cantiknya anak ayahnya itu kalau masih kecil sampai tumbuh dewasa yang keluar dari mulut ayahnya itu akan lebih bermakna daripada nanti ketika udah dewasa yang ngucapin orang lain,” ujarnya.
Ia bahkan menggambarkan bagaimana anak yang haus perhatian bisa mudah percaya pada laki-laki asing yang memberi pujian.
“Tiba-tiba wah anak aku cantik ya, mau deh sama dia. Siapa aja yang bilang cantik aku nurut sama dia,” katanya.
Tak hanya itu, Intan juga mengungkap dampak panjang bila korban kekerasan seksual tidak mendapatkan pendampingan psikologis yang tuntas.
Menurutnya, ada korban yang kemudian berubah menjadi pelaku di kemudian hari.
“Di penyembuhan psikologisnya tidak selesai nih, terapi psikologisnya tidak selesai, akhirnya ternyata sekarang dia jadi pelaku,” ujarnya.
Kasus seperti itu bahkan ditemukan dalam pendampingan Yayasan KAKAK.
“Itu ada di dua sampai tiga kasus,” kata Intan.
Selain menjadi pelaku, korban yang tidak pulih dengan baik juga berisiko mengalami berbagai persoalan lain.
“Bisa jadi dia berubah orientasi seksualnya,” ujarnya.
Ada pula korban yang akhirnya masuk ke dunia prostitusi.
“Di beberapa anak-anak kami ada juga yang masuk ke ranah prostitusi,” katanya.
Karena itu, Intan menegaskan penanganan korban kekerasan seksual tidak boleh berhenti hanya pada proses hukum.
“Amat sangat penting melakukan penanganan yang tepat dan juga menyeluruh,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-ayah-soal-pts-PTS-Bahasa-Inggris-Kelas-2-Semester-2-Kurikulum-Merdeka.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.