Idul Adha 2026
Apakah Daging Kambing Menyebabkan Darah Tinggi? Ini Penjelasan Medis
Di tengah masyarakat, beredar anggapan bahwa daging kambing bersifat “panas” dan dapat langsung menyebabkan tekanan darah meningkat.
Ringkasan Berita:
- Daging kambing tidak terbukti secara ilmiah menyebabkan darah tinggi, melainkan lebih dipengaruhi oleh pola makan, porsi konsumsi, dan cara pengolahannya.
- Daging kambing memiliki kandungan protein dan zat besi tinggi dengan lemak jenuh lebih rendah dibandingkan beberapa daging merah lain.
- Risiko hipertensi lebih sering muncul akibat pengolahan yang tidak sehat dan konsumsi berlebihan, seperti penggunaan garam, minyak, dan lemak dalam jumlah tinggi.
TRIBUNNEWS.COM - Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu hari besar umat Islam yang identik dengan ibadah kurban, yaitu penyembelihan hewan seperti kambing, sapi, atau domba sebagai bentuk ketakwaan dan kepedulian sosial.
Pada tahun 2026, Idul Adha jatuh pada 27 Mei 2026.
Pada momen ini, masyarakat biasanya menerima dan mengolah daging kurban, termasuk daging kambing yang dikenal memiliki aroma khas dan cita rasa yang kuat.
Daging kambing sendiri merupakan salah satu sumber protein hewani yang cukup populer dan memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi tubuh, seperti protein, zat besi, dan sejumlah mineral penting.
Namun, di sisi lain, masyarakat juga sering mengaitkannya dengan istilah “darah tinggi” atau hipertensi, yaitu kondisi ketika tekanan darah dalam arteri berada di atas batas normal dan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung serta gangguan pembuluh darah.
Di tengah masyarakat, beredar anggapan bahwa daging kambing bersifat “panas” dan dapat langsung menyebabkan tekanan darah meningkat.
Namun, persepsi ini lebih banyak berasal dari kepercayaan turun-temurun dibandingkan bukti ilmiah yang kuat.
Padahal, secara medis, tidak ada bukti yang menyatakan bahwa daging kambing secara langsung menjadi penyebab hipertensi.
Justru, yang lebih berpengaruh terhadap tekanan darah seseorang adalah pola makan secara keseluruhan, termasuk cara pengolahan dan jumlah konsumsi daging tersebut.
Secara ilmiah, daging kambing atau chevon merupakan salah satu jenis daging merah yang cukup banyak dikonsumsi di berbagai negara, terutama di kawasan Timur Tengah dan Asia.
Menariknya, dalam porsi yang sama, daging kambing memiliki sekitar 258 kalori, sedikit lebih tinggi dibandingkan daging sapi yang berada di kisaran 217 kalori, dikutip dari https://bandarharjo.semarangkota.go.id/.
Baca juga: Cara Membedakan Daging Sapi dan Kambing dengan Mudah, Ini Ciri-Cirinya
Namun, keunggulan daging kambing terletak pada kandungan lemaknya yang relatif lebih rendah serta kandungan protein dan zat besinya yang cukup tinggi, sehingga sering dianggap sebagai alternatif daging merah yang lebih sehat jika dibandingkan jenis lainnya.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa daging kambing memiliki manfaat kesehatan, seperti membantu menjaga kestabilan detak jantung, mendukung pembentukan hemoglobin untuk mencegah anemia, serta mengandung selenium yang berperan sebagai antioksidan untuk melindungi sel tubuh.
Selain itu, kandungan lemak jenuhnya yang lebih rendah dibandingkan daging sapi dan domba membuatnya relatif lebih ramah bagi kesehatan jantung apabila dikonsumsi secara wajar.
Namun demikian, nilai gizi daging sangat dipengaruhi oleh faktor lain seperti jenis ternak, cara pemeliharaan, dan proses pengolahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/harga-kambing-tinggi-akibat-wabah-pmk_20220609_205143.jpg)