Jumat, 5 Juni 2026

Pendiri Startup Picu Perdebatan Usai Sebut Kerja Kantor Lebih Produktif daripada Remote

Pendiri startup Bridger Pennington memicu perdebatan setelah mengklaim bahwa bekerja di kantor lebih produktif dibandingkan kerja remote.

Tayang:
Editor: Tiara Shelavie
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO
ILUSTRASI WFH - Warga Samarinda, SIshi Pricilia Work From Hotel (WFH) di kamar City View, Hotel Harris Jalan Untung Surapati Sungai Kunjang Kota Samarinda, Sabtu (21/11/2020). Pendiri startup Bridger Pennington memicu perdebatan setelah mengklaim bahwa bekerja di kantor lebih produktif dibandingkan kerja remote. (TRIBUNKALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO) 

Namun Pennington membela posisinya. Dalam wawancara dengan Fortune, ia mengatakan bahwa bekerja di kantor memberikan manfaat bagi karyawan maupun budaya perusahaan.

"Terutama setelah pandemi COVID-19, banyak anak muda ingin mengerjakan sesuatu yang menarik bersama orang-orang yang bekerja keras dan membangun sesuatu yang menyenangkan bersama-sama," katanya.

"Itulah budaya yang kami bangun di Fund Launch. Efeknya menular. Sangat menyenangkan, penuh energi, dan menarik untuk bekerja bersama orang-orang hebat dalam memecahkan masalah yang sulit, terutama ketika Anda tahu memiliki masa depan di perusahaan yang sedang dibangun."

Karyawan dan Bos Memiliki Definisi Produktivitas yang Berbeda

Menurut Pennington, pekerja yang bekerja dari rumah dianggap kurang produktif bukan karena hasil kerjanya lebih buruk, tetapi karena mereka masih memiliki waktu untuk menjalankan berbagai urusan pribadi.

Terlepas dari benar atau tidaknya angka 30% yang ia sebutkan, Pennington menyoroti perdebatan yang tampaknya tidak akan berakhir: karyawan dan perusahaan memiliki pandangan yang sangat berbeda mengenai seperti apa hari kerja yang produktif.

Penelitian menunjukkan bahwa hanya 25% pekerja yang mengukur produktivitas mereka secara formal. Sebagian besar mengandalkan ukuran yang lebih subjektif, seperti menyelesaikan daftar tugas atau sekadar merasa pekerjaan hari itu telah selesai.

Banyak pekerja menilai produktivitas dari kemampuan menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan. Namun kantor sering kali dipenuhi gangguan seperti obrolan spontan, rekan kerja yang meminta waktu lima menit tetapi berujung menjadi 45 menit, atau rapat beruntun yang sebenarnya bisa digantikan oleh email.

Di sisi lain, Pennington justru menganggap kemampuan untuk langsung berbicara dengan rekan kerja sebagai salah satu keuntungan terbesar bekerja di kantor.

"Bekerja secara langsung adalah keuntungan besar," katanya sambil menunjuk dua karyawan muda yang duduk di kantor terbuka.

"Mereka bisa belajar dari orang-orang di sekitar mereka. Saat bekerja langsung, Anda bisa berjalan menghampiri orang lain, berbicara, menyelesaikan sesuatu, dan membuat pekerjaan terus bergerak."

Ironisnya, interaksi spontan seperti itulah yang sering dianggap pekerja remote sebagai pengganggu produktivitas terbesar saat mereka berada di kantor.

Bagi manajer, melihat karyawan berada di meja kerja, mendapatkan pembaruan secara langsung, atau mengajak seseorang berdiskusi secara spontan mungkin terasa lebih produktif. Namun bagi pekerja yang mengerjakan tugas inti, gangguan-gangguan kecil tersebut dapat menumpuk dan mengurangi waktu untuk benar-benar menyelesaikan pekerjaan.

Karena itulah karyawan dan atasan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya sepakat mengenai definisi hari kerja yang produktif.

Para pekerja remote berargumen bahwa mereka lebih produktif karena dapat menyelesaikan pekerjaan dua jam lebih cepat tanpa gangguan yang ada di kantor, sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk urusan pribadi. Bagi mereka, itu adalah bukti efisiensi. Namun bagi atasan mereka, hal tersebut bisa terlihat sebagai dua jam waktu kerja yang hilang.

(*)

Sesuai Minatmu
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved