Senin, 18 Mei 2026

Cenderaloka

Mengenal Produk Blangkon Solo: Perpaduan Tradisi Jawa dan Sentuhan Modern

Blangkon adalah penutup kepala khas Jawa dengan sejarah panjang, filosofi kuat, dan kini dipadukan dalam desain modern UMKM lokal.

Tayang:
Penulis: Andra Kusuma
TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Penjual keliling Dwi Irawan menata dagangan blangkonnya. 

Ringkasan Berita:
  • Blangkon merupakan aksesori tradisional Jawa dengan nilai sejarah dan makna filosofis mendalam.
  • Asal-usulnya berasal dari masa Kerajaan Mataram dan erat dengan kebiasaan mengikat rambut laki-laki Jawa.
  • Ada dua jenis utama: Blangkon Jogja (mondholan besar) dan Blangkon Solo (belakang pipih).

 

TRIBUNNEWS.COM - Blangkon merupakan aksesori tradisional masyarakat Jawa yang memiliki nilai budaya mendalam.

Hingga kini, blangkon tetap menjadi simbol identitas leluhur dan bagian penting dari warisan budaya.

Bentuknya yang unik, proses pembuatan yang teliti, serta filosofi dalam setiap lipatan menjadikan blangkon bukan hanya penutup kepala, melainkan karya seni penuh sejarah.

Di era mode modern, blangkon kembali digemari sebagai pelengkap busana adat maupun kebutuhan acara budaya.

Kali ini Tribunshopping mengajak Anda mengenal lebih jauh tentang sejarah, asal-usul, hingga makna filosofis dari blangkon.

Baca juga: Suryoart Craft, Dari Hobi Jadi Kerajinan Lokal Bernuansa Budaya yang Mendunia

Sejarah Blangkon: Warisan Leluhur Jawa yang Sarat Makna

Blangkon Samurai Solo dan Samurai Jogja menjadi favorit.
Blangkon Samurai Solo dan Samurai Jogja menjadi favorit. (Tribunshopping.com)

Blangkon merupakan penutup kepala khas Jawa yang memiliki posisi penting dalam budaya masyarakat setempat.

Tidak hanya menjadi bagian dari pakaian tradisional, blangkon juga menyimpan perjalanan panjang sejarah dan nilai-nilai budaya yang membentuk jati diri orang Jawa.

Untuk memahami keistimewaan blangkon, kita perlu melihat bagaimana asal-usulnya, perkembangan bentuknya, serta peran maknanya dalam kehidupan masyarakat.

Asal-usul blangkon dipercaya berasal dari masa kerajaan-kerajaan Jawa kuno, khususnya pada era Kerajaan Mataram.

Pada zaman itu, blangkon dikenakan oleh kalangan bangsawan dan abdi dalem sebagai bagian dari busana resmi.

Seiring berjalannya waktu, blangkon mulai digunakan oleh masyarakat umum.

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa blangkon bermula dari kebiasaan pria Jawa yang mengikat rambut panjang.

Ketika budaya Islam masuk dan rambut panjang tak lagi umum dipertahankan, bentuk ikatan tersebut kemudian diwujudkan dalam lipatan blangkon.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved