Mahmud, Melestarikan Budaya Betawi dengan Jualan 'Bir Pletok'
Minuman tradisional masyarakat Betawi yang sudah mulai langka di Jakarta
TRIBUNNEWS.COM -- SUDAH lebih dari setahun, Mahmud bin Entong kerjanya tiap hari keliling di seputaran Kelurahan Taanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kakek berusia 60 tahun lebih ini keliling di seputaran Jl 100 hingga Poltangen, Pasar Minggu menjajakan bir.
Tetapi bir yang satu ini tidak mengandung alkohol, rasanya manis agak sedikit pedas, tetapi kalau sudah diminum akan terasa hangat. Ya, inilah bir pletok. Minuman tradisional masyarakat Betawi yang sudah mulai langka di Jakarta.
Lelaki dengan lima putra yang mengaku asli betawi Tanjung Barat ini setiap menjual dagangannya selalu mengenakan pakaian khas betawi. Kaos oblong putih, sarung yang diikat dengan sabuk besar khas betawi dan kopyah hitam.
Lagu-lagu khas betawi dari Benyamin Suaeb dan Ida Royani pun selalu mengiringi kemana gerobak bir pletok itu pergi. Tidak lupa, dia selalu menyapa dengan ramah, orang-orang yang lewat di sekitarnya. Tidak sulit ngobrol dengannya, karena dengan satu pertanyaan saja, Mahmud langsung menerangkan perihal dagangannya tersebut hingga detil-detilnya.
Saat disambangi Tribunnews belum lama ini di Perumahan Tanjung Mas, Mahmud dengan ramah melayani. "Kalau satu gelas murah, cuma Rp 3.000, kalau satu botol sirup Rp 16.000," ujarnya.
Bukan hanya bir pletok saja yang dia jual. Suami dari Sukarni ini juga menjual makanan seperti ongol-ongol, ketimus, gemblong dan lain-lainnya. Lokasi jualannya pun sudah dijadwalkan tersendiri. Pada hari tertentu ia akan berjualan di Jl 100, lain harinya di Jl Nangka kemudian ke Pejaten Timur di lain harinya.
Pelanggannya bukan golongan tertentu saja, tetapi hampir semua lapisan masyarakat di sekitarnya. Ada pejabat yang tinggal di perumahan mewah, ada juga anak-anak.
Belajar dari Tukang Pijat
Semua yang dijajakan oleh Mahmud ini memang berbau betawi. Dan dia bukannya tidak sengaja menjajakan makanan khas daerah tersebut.
"Sekarang sudah susah cari bir pletok, adanya di hari-hari tertentu saja. Padahal minuman ini menyehatkan. Punya khasiat bisa nyembuhin masuk angin," ujarnya.
Dengan jualan bir pletok ini, kakek. Dari lima cucu ini juga berharap makanan dan minuman khas Betawi tidak akan punah dilindas zaman.
Dengan berjualan sekitar 10 botol setiap hari ditambah puluhan makanan khas tersebut, ia mengaku keuntungannya tidak seberapa. Hanya bisa memberi makanan buat istri dan beberapa anaknyaa yang belum berkeluarga.
Namun karena dukungan orang disekitarnya untuk terus berjualan bir pletok, maka Mahmud terus percaya diri menjajakan minuman berbahan dasar rempah-rempah asli Indonesia tersebut. "Hampir semuanya mendukung saya, ini sabuk saya juga dapat dari orang yang mau saya jualan bir pletok," ujarnya.
Bahkan, untuk modalnya, tadinya ada orang yang telah menawarkan sejumlah uang untuk membeli gerobak. Namun ia memilih menolaknya dengan alasan tidak bebas, modal dari mendapatkan arisan pengajian sebesar Rp 3 juta yang dia gunakan sebagai modal awal.
Mahmud yang sebelumnya berprofesi sebagai buruh serabutan tersebut mengaku terpanggil untuk berjualan bir pletok setelah berkunjung ke danau Setu Babakan, Lenteng Agung dua tahun lalu. Ia sempat membeli bir pletok di tempat itu dan kemudian terinspirasi untuk jualan bir pletok di lokasi perumahan. "Kalau Setu Babakan kan tempat wisata, nah bagaimana kalau menjualnya di wilayah perumahan seperti di Tanjungbarat," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/20131208_163813_mahmud-bin-entong-bir-pletok.jpg)