Ahok Berangkatkan Umrah Petugas Masjid di Tanjung Priok
Pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini direncanakan berangkat umrah pada Kamis mendatang
"Awalnya saya sudah putus asa dan berpikir tidak akan jadi pergi ke tanah suci. Ternyata, Tuhan berkata lain. Saya dan puluhan marbut lainnya bisa berangkat ke tanah suci," kata Suweha.
Suweha mengatakan, dengan upah sebesar Rp 800.000 per bulan sebagai marbut, sangatlah sulit untuk bisa pergi umrah.
Terlebih upah sebesar itu, baru ia dapatkan sejak beberapa tahun.
"Saya jadi marbut sejak tahun 1971. Selama puluhan tahun jadi marbut, saya baru menerima gaji sejak tiga tahun lalu. Besaran upahnya dulu Rp 300.000 dan terus merangkak naik sampai sekarang Rp 800.000 per bulan," jelas Suweha.
Dia menambahkan, untuk kebutuhan makan, Suweha masih dibantu oleh ketiga anaknya yang telah bekerja.
Masing-masing anaknya, memberi uang Rp 1 juta setiap bulan. Selain untuk keperluan makan bersama istri, Musiam (45), uang pemberian anaknya juga dialihkan untuk membangun dua petak kontrakan rumah.
Kini, dua petak kontrakan itu telah selesai dibangun.
Ia berencana akan mematok harga sewa keduanya sebesar Rp 9 juta dan Rp 15 juta per tahun.
"Belum ada yang nyewa, masih kosong karena baru selesai dibangun. Semoga aja, nanti ada yang mau nyewa buat usaha," katanya.
Dia pun berharap, agar pemerintah bisa memberangkat marbut lainnya untuk murah ke Mekkah.
Sebab, masih ada ribuan marbut di DKI Jakarta yang ingin bisa beribadah di sana.
"Kami senang dengan adanya program ini, berarti marbut juga dipandang sebagai pekerjaan yang muliah karena pemerintah memberi perhatian lebih atas kinerja kami," ucap Suweha.
Tukang Ojek
Perjalanan hidup Suweha dari seorang marbut, hingga bisa umrah gratis merupakan perjalanan yang panjang.
Sebelum menjadi marbut, pria bertubuh kurus ini sempat menjadi tukang ojek di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/suwehamarbot-atau-petugas-kebersihan-masjid_20141217_082808.jpg)