Minggu, 3 Mei 2026

Kasus First Travel

Dikejar Calon Jemaah Umrah First Travel, Sosok Ini Bilang 'Mau Mati Saja'

Beragam cerita muncul saat para korban datang ke kantor tim pengurus PKPU. Dari mengerikan hingga menyedihkan.

Tayang:
Editor: Rendy Sadikin
WARTA KOTA/FERYANTO HADI
Ardi, staf tim pengurus penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) saat menerima korban First Travel di Perkantoran Grand Wijaya Center Blok F Nomor 10, Jalan Wijaya II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Para korban penipuan agen perjalanan umrah First Travel terus berdatangan ke kantor tim pengurus penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) di Grand Wijaya Center Blok F 10, Jakarta Selatan.

Kedatangan mereka tak lain adalah untuk mengurus administrasi penagihan utang sebagai kreditur.

Beragam cerita muncul saat para korban datang ke kantor tim pengurus PKPU.

Mulai dari yang marah-marah sembari menggebrak-gebrak meja, ada yang menyatakan ingin mati saja, dan ada pula yang cuma ingin melihat bos First Travel Andika Surachman.

Baca: Anak Korban First Travel Ini Berharap Andika dan Anniesa Dihukum Gantung

Ardi, staf tim PKPU, menceritakan berbagai kelakuan korban yang datang sejak 28 Agustus 2017.

Selasa (5/9) lalu misalnya, ada seorang pria paruh baya yang mengamuk.

"Dia datang marah-marah gebrak meja, katanya dipingpong dari Mabes Polri, terus ke pengadilan, terus ke alamat First Travel," ujar Ardi.

"Katanya ini tempat terakhir yang didatangi, dia enggak mau ke mana-mana lagi. Akhirnya kami siram air, kami tenangkan," lanjut Ardi.

Baca: Korban First Travel Ini Tetap Menunggu Diberangkat Umrah Hingga Ajal Menjemput

Dia juga menceritakan beberapa hari lalu ada seorang perempuan paruh baya yang datang dengan kondisi lemas.

Perempuan itu merupakan seorang agen First Travel yang tengah dikejar-kejar calon jemaah umrah yang kecewa.

"Ibu itu pucat banget, katanya dia mau mati aja. Pas saya tanya berapa jemaahnya, dia bilang 3.000 orang. Pantas saja mau mati," kata Ardi.

Kemarin, di antara puluhan korban penipuan agen perjalanan umrah First Travel yang melampirkan tagihan ke kantor tim pengurus PKPU, tampak seorang pria muda datang tanpa membawa berkas dan hanya melihat-lihat.

"Saya cuma mau lihat bos First Travel," kata pria bernama Jen itu, Rabu (6/9).

Baca: Mengaku Pasrah, Korban First Travel Ini Ingin Lihat Wajah Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan

Jen yang berprofesi sebagai office boy itu datang dari kantornya di daerah Klender, Jakarta Timur.

Ia mendengar, jemaah bisa menagih uangnya di lokasi itu setelah First Travel diwajibkan melunasi utangnya kepada calon jemaah umrah oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Jen beserta dua orangtuanya dan lima tetangganya di Bekasi mengaku sudah pasrah uangnya tak akan kembali.

Namun kekesalan terhadap dua bos First Travel, Andika Surachman dan Anniesa Hasibuan, masih terpendam.

"Orangtua saya sudah ngikhlasin, katanya enggak apa-apa mungkin bukan rezeki kami, tapi orang itu (Andika dan Anniesa) kalau bisa dihukum gantung saja," kata Jen.

Jen pun hanya mengobrol dengan para staf tim PKPU.

Ia menanyakan kapan jadwal sidang selanjutnya digelar.

Ia ingin melihat wajah Andika dan Anniesa di ruang sidang.

Baca: Raja dan Ratu First Travel Sampaikan Pesan Ini kepada Korbannya dari Balik Jeruji Penjara

Tim PKPU menjelaskan bahwa sidang di Pengadilan Niaga hanya dihadiri kuasa hukum Andika-Anniesa.

Sebab pasangan suami istri itu masih ditahan oleh Mabes Polri untuk tindak pidana penipuan dan penggelapan. Sidang di Pengadilan Niaga hanya mengurus kasus perdata.

Setelah mendengar penjelasan itu, Jen mengatakan tidak punya keinginan untuk mendaftarkan diri sebagai kreditur demi menagih uangnya yang digelapkan First Travel.

Ia hanya datang untuk mengungkapkan kekecewaannya.

"Saya kesal aja, sama tetangga dan orangtua sudah sampai bikin syukuran, eh ternyata ditipu begini," kata dia.

Wajar marah

Ardi mengatakan kepada Warta Kota, hingga Rabu kemarin, sekitar 4.000 jamaah sudah mengajukan diri sebagai kreditur ke PKPU.

Jamaah berasal dari berbagai daerah, baik pulau Jawa maupun luar Jawa dengan harapan uang mereka bisa kembali.

Ardi bercerita, sejak dibuka pada 28 Agustus lalu, ia telah menjumpai banyak jemaah yang mengaku hampir frustasi dengan kasus First Travel ini.

"Ya wajar mereka marah dan kesal. Kami pahami itu. Banyak yang datang dengan lemas, seperti tidak yakin uangnya bakal kembali. Tapi kami minta supaya mereka khusnuzan dan masalah ini bisa selesai lewat PKPU ini," katanya.

Sepasang suami-isteri, kata Ardi, beberapa hari lalu datang dengan penuh rasa penyesalan.

Dua orang itu sebelumnya pernah berangkat umrah bersama First Travel.

Baca: Anak Korban First Travel Minta Andika dan Anniesa Dihukum Gantung

Karena merasa tidak ada masalah, tahun lalu mereka kembali mendaftar.

Bahkan kali ini dengan 70 orang sanak keluarga dan kerabatnya.

"Mereka katanya pernah berangkat dan tidak ada masalah sehingga mereka promosi lah sama keluarga besar dan kawan-kawan mereka.

"Ada 70 orang yang berhasil mereka ajak. Untungnya mereka bukan agency, hanya promosi saja. Kemarin mereka mengaku merasa bersalah dan tidak enak hati karena akhirnya jadi begini," terang Ardi.

fha/dwi/ajg/Kompas.com

Berita ini dipublikasikan di WARTA KOTA dengan judul: Ibu Ini Dikejar-kejar Calon Jemaah Umrah First Travel, Katanya Mau Mati Saja

Sumber: Warta Kota
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved