Dari Museum Basoeki Abdullah, Perupa Kota Tua Memotret Kondisi Bangsa
Melalui potret tersebut, kata Maeva, para perupa meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih memperkuat rasa cinta terhadap bangsanya.
“Sejalan dengan perkembangan zaman di era industri 4.0, perlu ada upaya inovatif dan adaptif untuk dapat meneruskan dan mengembangkan eksistensinya,” jelas Kurnia.
Salah satu lukisan yang dipamerkan berjudul “Democrazy” (2019, 50 x 40 cm, cat akrilik di atas kanvas), karya Kembang Sepatu. Menurut pelukisnya, 74 tahun perjalanan demokrasi di Indonesia, penuh intrik yang tidak lazim atau tidak waras (crazy).
"Demokrasi penuh dengan transaksi laiknya jual-beli. Demokrasi penuh terror, yang salah bisa benar, yang benar bisa salah. Demokrasi penuh bahasa kekerasan, berlawanan dengan makna demokrasi itu sendiri,” jelas Kembang Sepatu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ketua-panitia-pameran-lukisan-k.jpg)