Balapan Mobil Listrik Formula E

PDIP Heran Ongkos Formula E di Jakarta Lebih Mahal Dua Kali Lipat Dibanding Hongkong

Gilbert kemudian membandingkan perhelatan Formula E di Montreal, Kanada 2016-2017 yang ia sebut merugi.

PDIP Heran Ongkos Formula E di Jakarta Lebih Mahal Dua Kali Lipat Dibanding Hongkong
DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI DKI
Menyambut balap mobil listrik atau Formula E di Indonesia, Jakarta 2020 E-PRIX, beberapa kendaraan listrik mengadakan konvoi dari Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK) menuju Monas, Jakarta Pusat. Konvoi dipimpin Gubernur DKI Jakarta @aniesbaswedan dan diikuti sejumlah kendaraan listrik seperti BMW i8 Roadster, Taksi Listrik Blue Bird, Motor Gesits, Selis, ITS, dan bus listrik Transjakarta. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI menyebut biaya yang digelontorkan Pemprov DKI untuk menghadirkan balap mobil listrik Formula E 2020 di Jakarta, terlalu besar.

Bahkan, dua kali lipat dari dana yang dikeluarkan pemerintah Hongkong ketika menghelat kegiatan serupa.

Pemprov DKI sendiri diketahui harus merogoh anggaran Rp1,16 triliun. Sedangkan pemerintah Hongkong dengan kurs yang sama cuma mengeluarkan dana HKD 250-300 juta alias Rp540 miliar.

"Apa dasar biaya penyelenggaraan Formula E di Jakarta membengkak dua kali lipat dari luar negeri?," kata Anggota Fraksi PDI-P Gilbert Simanjuntak kepada wartawan, Selasa (11/2/2020).

Baca: Observasi 238 WNI di Natuna Selesai Sabtu, Menkes Terawan Koordinasikan Pemulangan Mereka

Ia juga menjelaskan terjadi ketidakjelasan leading sector untuk kegiatan tersebut. Sebab dana terbesar dipegang oleh PT Jakarta Propertindo yang punya bisnis utama di sektor infrastruktur.

Hal ini berbanding terbalik dengan target penyelenggaraan Formula E yang fokus pada mendongkrak jumlah turis datang ke Jakarta.

"Dari besaran anggaran tidak bisa dengan jelas ditangkap mana yang jadi leading sector untuk kegiatan ini. Karena dana paling besar dipegang Jakarta Propertindo yang bisnis utamanya infrastruktur, padahal target adalah menaikkan jumlah turis (Dinas Pariwisata) ke Jakarta atau Indonesia," ujar dia.

Baca: Deretan Fakta Unik Arak Bali, Minuman Beralkohol Khas Bali yang Kini Legal

Biaya yang meningkat dua kali lipat ini jadi pertanyaan besar bagi PDI-P. Mengingat bahan baku yang digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarananya berasal dari dalam negeri.

"Apa yang membedakan biaya penyelenggaraan di Jakarta dua kali lipat biaya di Hongkong? Sementara bahan untuk membangun ada di Indonesia," katanya.

Gilbert kemudian membandingkan perhelatan Formula E di Montreal, Kanada 2016-2017 yang ia sebut merugi.

Baca: 2 Kali Mangkir, Putra Tokoh Agama di Jombang Terduga Pencabulan Santriwati Bakal Dijemput Paksa

Lalu, Moskow yang juga menghelat Formula E selama dua hari terpaksa membatalkan kegiatan tersebut karena khawatir dampak kemacetan yang terjadi karena harus menutup jalanan protokol.

"Jakarta sebagai salah satu kota termacet di dunia akan mengalami dampak kemacetan luar biasa selama dua hari," pungkas Gilbert.

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved