Jumat, 29 Agustus 2025

Demo Buruh

Saat Pedagang Otak-otak Tetap Nekat Berjualan, Abaikan Tembakkan Gas Air Mata Polisi

Matanya pun awas, sesekali dia mengamati lingkungan takut jika gas air mata terlontar ke arahnya.

Tribunnews.com/Alfarizy AF
DEMO DPR - Pedagang otak-otak di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, tetap berjualan di tengah unjuk rasa, Kamis (28/8/2025). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah kepulan gas air mata yang dilontarlan aparat kepolisian ke kerumunan massa di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/2025), seorang pedagang otak-otak tetap setia berdagang.

Otak-otak adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari daging ikan cincang, biasanya ikan tenggiri, yang dicampur dengan bumbu rempah dan dibungkus daun pisang, lalu dipanggang atau dikukus hingga matang.

Baca juga: Massa Demo DPR Lempar Molotov ke Barikade Polisi di Patal Senayan

Dengan kipas elektrik kecil yang tersambung dengan bank daya alias power bank, dia tampak ulet membolak-balikkan makanan berbungkus daun pisang itu.

Matanya pun awas, sesekali dia mengamati lingkungan takut jika gas air mata terlontar ke arahnya.

Gas air mata adalah senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan kerumunan atau membubarkan massa dengan cara mengiritasi mata, hidung, kulit, dan saluran pernapasan. 

Sebagai persiapan, pasta gigi sudah dioles hampir di seluruh wajah. Tak lupa, pria berkopiah putih itu pun memakai masker untuk menghalau gas air mata yang tentu menyiksa jika terhirup.

"Wah kalau nggak pakai ini (pasta gigi) pedih banget di mata," ujar pria yang enggan disebutkan namanya itu kepada Tribunnews.com.

Meski rasa takut menghantui, terutama bila gas air mata sampai mengenai tubuhnya, ia mengaku tak punya pilihan lain. 

Dia hanya ingin mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari aksi unjuj rasa yang dilakukan oleh masyarakat.

"Ya ada takutnya juga kalau gas air mata sampai ke kaki. Jadi siap-siap lari aja nanti," jelasnya.

Menurutnya, dagangan yang dijajakan justru laris manis karena banyak peserta aksi maupun warga sekitar yang tetap membeli camilan di tengah suasana tegang.

"Ya ada aja sih yang beli, kalau biasanya dagang di Sudirman, stasiun," ungkapnya.

Baca juga: Polisi Sweeping Pelajar di Jalur Utama hingga Stasiun Palmerah karena Diduga Bakal Ikut Demo di DPR

Pria yang tak muda lagi ini tidak sendiri berjualan di titik tersebut. Ada banyak pedagang lain seperti seperti penjual air mineral dadakan.

Hingga sekira pukul 16.40 WIB, kepulan gas air mata masih sesekali ditembakkan aparat untuk membubarkan massa. 

Di sisi lain, massa aksi yang terlihat seperti pelajar terus memaksa maju ke arah Palmerah, tempat barikade polisi berdiri.

Adapun ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja hadir dalam aksi ini untuk menyuarakan enam tuntutan utama.

1. Hapus Outsourcing dan Tolak Upah Murah (HOSTUM). Buruh menuntut penghapusan sistem kerja alih daya dan meminta kenaikan upah minimum tahun 2026 sebesar 8,5 hingga 10,5 persen.

2. Stop PHK. Pemerintah diminta segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang marak terjadi.

3. Reformasi Pajak Perburuhan. Tuntutan mencakup kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) menjadi Rp7.500.000 per bulan, penghapusan pajak atas pesangon, THR, JHT, serta penghentian diskriminasi pajak terhadap pekerja perempuan yang telah menikah.

4. Sahkan RUU Ketenagakerjaan tanpa Omnibus Law. Buruh menolak mekanisme omnibus law dan mendesak agar RUU Ketenagakerjaan menjamin kepastian kerja, upah layak, serta perlindungan sosial.

5. Sahkan RUU Perampasan Aset. Tuntutan ini dianggap penting sebagai langkah konkret dalam pemberantasan korupsi.

6. Revisi RUU Pemilu. Buruh mendesak adanya perombakan sistem Pemilu 2029 agar lebih demokratis, adil, dan partisipatif.

 

 

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan