Demo di Jakarta
Insiden Driver Ojol Dilindas Rantis Brimob dari Kacamata Psikologi Forensik Reza Indragiri
Pendapat Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel soal kasus Affan Kuniawan, drivel ojol yang tewas terlindas rantis Brimob.
Penulis:
Yulis
Editor:
Theresia Felisiani
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel menyoroti kasus Affan Kurniawan (21) driver ojek online (ojol) yang tewas dilindas kendaraan taktis (Rantis) Brimob di kawasan Pejompongan, Kamis (28/8/2025).
"Sebagai pelanggan setia ojek online, jelas ini peristiwa yang sangat menyedihkan. Begitu pula, membayangkan suasana batin pengemudi rantis saat ini, pilu hati saya," ucapnya, Jumat (29/8/2025).
Reza Indragiri menyoroti sejumlah point dalan insiden tewasnya Affan Kurniawan yang dimakamkan siang ini di Blok AA I unit Islam Blad 70, TPU Karet Bivak.
PERTAMA, Riset menemukan, polisi juga bisa merasa kecemasan tinggi. Apalagi dalam situasi kerumunan yang kacau, ketegangan sangat mungkin meninggi.
KEDUA, Rantis bergerak dengan kecepatan yang masih bisa pengemudi kendalikan. Tapi tabrakan tak terhindarkan. Mengapa?
"KETIGA, dalam situasi seramai itu, pengemudi tidak bisa berfokus semata-mata lurus ke depan. Pergerakan massa dalam jumlah besar secara acak menyebar, membuat pengemudi harus menyapu pandangannya ke banyak titik untuk menghindari tabrakan," ucap Reza Indragiri.
Baca juga: Jalan Jenderal Sudirman Menghijau, Ratusan Lebih Ojol Antar Jenazah Affan Kurniawan ke Pemakaman
KEEMPAT, Menjelang momen tabrakan, demonstran berjaket hitam (lingkaran merah) secara sekaligus berada pada jarak terdekat dengan demonstran berjaket hijau (lingkaran biru) dan rantis. Kedua demonstran itu bergerak dengan posisi tubuh, pola, dan kecepatan yang berbeda satu sama lain.
KELIMA, secara bertahap, rantis terlebih dahulu harus menghindar dari demonstran berjaket hitam. Dalam tempo sangat singkat, pengemudi hanya punya satu kemungkinan: spontan ke kiri. Adaptasi pengemudi sudah tepat.
KEENAM, namun pada tahap berikutnya, tabrakan dengan demonstran berjaket hijau tidak terhindarkan. Rantis bergerak konstan (sama), sementara demonstran berbaju hijau tidak sama (posisi tubuh, pola, dan kecepatan) dengan demonstran berbaju hitam. Adaptasi pengemudi meleset, padahal adaptasi itu berhasil sesaat sebelumnya.
KETUJUH, rantis berhenti sesaat setelah terjadi tabrakan. Ini mengindikasikan sesaat setelah terjadinya benturan, pengemudi masih cukup mampu mengendalikan diri, baik kendali oleh diri sendiri maupun oleh penumpang rantis. Rantis kemudian bergerak. Ini manifestasi flight sebagai akibat kepanikan.
"Jadi, dua kondisi psikis pengemudi dalam situasi 1-7: fear dan miskalkulasi pada saat mengantisipasi dua demonstran yang berbeda (tidak konstan)," kata Reza Indragiri.

Dikaitkan dengan mens rea (level kesadaran)--bukan motif (jenis)--pengemudi, maka perlu dibedakan dua momen. Pada momen tabrakan, mens rea pengemudi adalah negligence. Sedangkan pada momen rantis bergerak kembali, mens rea pengemudi adalah recklessness atau bisa pula negligence (butuh pendalaman). Kedua mens rea tersebut berada pada level rendah.
"Alhasil, sekali lagi, kejadian ini menyedihkan bagi demonstran berjaket hijau--saya bayangkan dia adalah pengemudi ojol--dan pengemudi rantis. Andai para petinggi negara ini lebih amanah, tidak akan terjadi ini musibah. Semoga investigasi berlangsung tuntas, menyeluruh, objektif, dan transparan, " tambahnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.