Jumat, 29 Agustus 2025

Demo di Jakarta

PGI Minta Kasus Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob Diusut Tuntas Tanpa Impunitas

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) harap kasus driver ojol Affandi Kurniawa tewas dilindas rantis Brimob diusut tuntas tanpa impunitas.

Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda
OJOL TEWAS - Jenazah Affan Kurniawan bin Zulkifli, ojol yang tewas dilindas mobil Baraccuda Brimob Polri tiba di TPU Karet Bivak, Jakarta, Jumat (29/8/2025) pagi. PGI prihatin kasus driver ojol tewas dilindas rantis Brimob, desak pelaku diusut tuntas tanpa impunitas.  

TRIBUNNEW.COM, JAKARTA - Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Manuputty, menyampaikan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban dalam gelombang demonstrasi yang belakangan merebak di berbagai kota.

PGI merupakan organisasi yang mewadahi berbagai gereja Protestan di Indonesia dalam semangat persatuan dan pelayanan bersama. PGI didirikan pada 25 Mei 1950 di Jakarta.

Jacklevyn mengatakan aksi protes masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dan legislatif itu memakan korban jiwa seorang pengemudi ojek bernama Affan Kurniawan (21) yang tewas usai tertabrak kendaraan taktis kepolisian. 

Beberapa anggota polisi juga dilaporkan kritis akibat bentrokan dengan massa.

"Alangkah pilu ketika suara-suara para demonstran itu dibalas dengan kekerasan. Ketika tangan yang seharusnya melindungi justru menindas. Ketika gas air mata serta meriam air menggantikan dialog, dan pentungan menggantikan empati. Kita tidak sedang menjaga ketertiban, kita sedang mengkhianati keadilan," kata Jacklevyn dalam pernyataannya, Jumat (29/8/2025).

PGI menyampaikan dukacita kepada keluarga korban pengemudi ojek, sekaligus mendoakan anggota kepolisian yang terluka saat bertugas. 

Baca juga: 7 Anggota Brimob Diperiksa Buntut Lindas Driver Ojol, Kendaraan Taktis Diamankan di Kwitang

Menurutnya, demonstrasi tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan cermin kegelisahan rakyat yang lama diabaikan.

Kepada para politisi, ia mengingatkan agar tidak menjadikan kemarahan rakyat sebagai komoditas politik. 

"Jangan pura-pura lupa, kemarahan rakyat bukan datang dari ruang kosong. Ia lahir dari janji-janji yang dikhianati, dari kebijakan yang menyakiti, dari kepemimpinan yang abai. Jangan mempolitisir luka yang kalian torehkan," ucapnya. 

Lebih lanjut, dirinya menyerukan agar masyarakat tetap menjaga ketenangan dalam menyampaikan aspirasi. 

"Kita butuh ketenangan, bukan karena kita lemah, tapi karena kita ingin tuntutan-tuntutan kita dicapai dengan bermartabat. Mari jaga ruang perjuangan ini tetap bermoral, tetap beradab," ujarnya.

Baca juga: Siang Ini Polda Metro Didemo Mahasiswa Buntut Ojol Dilindas, Desak Kapolri-Kapolda Metro Dicopot

PGI juga mendorong aparat penegak hukum untuk menangani kasus meninggalnya pengemudi ojek dengan jujur dan transparan, tanpa impunitas. 

"Bangsa ini butuh keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya," katanya. 

Dirinya mengajak semua pihak membangun bangsa melalui refleksi, bukan represi. 

Menurutnya, suara rakyat bukan untuk dibungkam dengan kekerasan yang represif.

"Suara rakyat bukan untuk dibungkam, tetapi untuk didengar, dipahami, dan dijadikan arah," pungkasnya.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan