Jumat, 15 Mei 2026

Membangun Ketahanan Pangan Lewat Pemanfaatan Kebun Pesantren

Anak-anak diajak mengenal siklus pangan secara utuh, mulai dari pengelolaan sampah, penyemaian benih, penanaman, hingga panen sayuran.

Tayang:
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Erik S
HO/IST/Istimewa/HO
KETAHANAN PANGAN - Aktivitas perawatan tanaman pangan di lahan kosong Pondok Pesantren Nanggerang, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 
Ringkasan Berita:
  • Program Pengabdian Masyarakat menggagas ide membangun ketahanan pangan dengan memanfaatkan lahan kosong di Pondok Pesantren Nanggerang, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor.
  • Ide ini dibangun dengan membuat kebun edukatif untuk santri pondok dan mengajak mereka mengenal siklus pangan secara utuh, mulai dari pengelolaan sampah, penyemaian benih, penanaman, hingga panen sayuran.

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR – Membangun ketahanan pangan berbasis komunitas bisa menjadi solusi untuk mengantisipasi ancaman krisis lingkungan dan kerentanan pangan yang semakin nyata.

Tim dosen bersama alumni dan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) melalui Program Pengabdian Masyarakat menggagas ide tersebut dengan memanfaatkan lahan kosong di Pondok Pesantren Nanggerang, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kebun kosong tersebut dimanfaatkan sebagai kebun edukatif. Anak-anak diajak mengenal siklus pangan secara utuh, mulai dari pengelolaan sampah, penyemaian benih, penanaman, hingga panen sayuran.

Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, Wisata Kariangau di Balikpapan jadi Percontohan Desa Energi Berdikari PTK

“Anak-anak jadi tahu bahwa pangan tidak datang begitu saja. Mereka melihat sendiri proses mengolah tanah, menanam sampai bisa dipanen,” ujar pengelola Pesantren Nanggerang.

Kegiatan dilakukan melalui enam sesi pelatihan sejak September hingga November 2025, melibatkan 11–20 santri dalam setiap sesi pertemuan.

Praktik yang dilakukan mencakup pemilahan sampah, pembuatan kompos, persiapan raised bed, serta penanaman sayuran.

Hasil awalnya, beberapa jenis sayuran seperti bayam dan bayam Brasil sudah dapat dipanen dan dimanfaatkan.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Dhita Hapsarani, menjelaskan, literasi lingkungan dan ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan.

“Ketika anak memahami hubungan antara tanah, sampah, tanaman, dan makanan, di situlah kesadaran ekologis sekaligus kesadaran tentang pangan mulai tumbuh,” katanya dikutip Selasa, 23 Desember 2025.

Meski masih berada pada tahap awal, pengelola pesantren menilai program ini membuka perspektif baru.

Baca juga: ICMI Dorong Kepemimpinan Perempuan dalam Ketahanan Pangan

“Kami mulai melihat kebun ini sebagai bagian dari kemandirian pesantren. Sedikit demi sedikit, ini akan dikembangkan untuk membantu kebutuhan pangan kami sendiri,” ujarnya.

Program ini mendapat dukungan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat 2025.

Selanjutnya, program ini diharapkan berkembang menjadi model penguatan ketahanan pangan berbasis pesantren dan pendidikan lingkungan hidup.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved