Sabtu, 9 Mei 2026

Rugi Rp1,8 Miliar, Korban Dugaan Penipuan Trading Kripto Timothy Ronald Harap Kebenaran Terungkap

RR hanya mengatakan selama satu tahun lebih mengikuti kelas Akademi Crypto tak ada keuntungan yang diperoleh, justru sebaliknya.

Tayang:
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Erik S
Tribunnews.com/Reynas Abdila
PENIPUAN TRADING KRIPTO - RR, korban dugaan trading kripto melalui Akademi Crypto milik Timothy Ronald dan Kalimasada menjalani proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2028). Korban didampingi kuasa hukumnya Jajang. 
Ringkasan Berita:
  • Korban dugaan penipuan trading kripto melalui Akademi Crypto menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya.
  • Korban mengaku mengalami kerugian besar dan tidak pernah memperoleh keuntungan selama mengikuti kelas.
  • Kasus ini masih dalam penyelidikan polisi dengan pola dugaan penipuan yang dialami banyak korban.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- RR, korban dugaan trading kripto melalui Akademi Crypto milik Timothy Ronald dan Kalimasada menjalani proses Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2028).

Pria berdomisili Jakarta dan bekerja sebagai wirausaha ini mengaku sudah kehilangan uang sebesar Rp1,8 miliar.

Tak banyak yang diungkapkan RR saat diwawancarai awak media.

RR hanya mengatakan selama satu tahun lebih mengikuti kelas Akademi Crypto tak ada keuntungan yang diperoleh, justru sebaliknya.

Dia hanya berharap kepolisian dapat mengungkap kasus yang memakan banyak korban karena janji kekayaan ilusi.

"Ya semoga kebenaran bisa terungkap. Itu saja," singkatnya usai di BAP selama 10 jam lebih.

Dalam pengambilan keterangan BAP kepada penyelidik itu, korban RR didampingi kuasa hukumnya Jajang.

Jajang membeberkan bahwa para korban memiliki pola kejadian yang hampir sama saat pertama kali terjerat Akademi Crypto.

Menurutnya para korban tergoda iklan di media sosial yang menjamin win rate 90 persen dari trading kripto.

“Pada prinsipnya modus operandinya sama awalnya para korban tergoda iklan medsos lalu buka YouTube, lewat FYP kemudian ada info A1 bahwa koin ini akan naik dan segala macam, dari situlah para korban mulai masuk ke dalam kelas Akademi Crypto,” kata Jajang.

Baca juga: Korban Dugaan Penipuan Trading Kripto Timothy Ronald Jalani BAP, Kuasa Hukum Ungkap Ada Temuan Baru

Dia menjelaskan ada program promosi kelas Akademi Crypto yang disebut Margin Call.

Setelah dijanjikan win rate 90 persen namun fakta yang terjadi turun menjadi 80 persen.

Tak hanya RR, pelapor lainnya yang juga merugi hingga miliaran rupiah dan sudah bersuara di Polda Metro Jaya yakni Younger dan Agnes Stefani.

Korban Younger rugi mencapai Rp3 miliar, sedangkan Agnes Stefani rugi Rp1 miliar.

Jajang menegaskan, proses hukum akan terus berjalan meski pihak terlapor masih beraktivitas dan mengunggah promosi kelas.

“Kami enggak bisa melarang orang beraktivitas, itu hak beliau tapi yang jelas proses hukum tetap proses hukum, kami tidak akan pernah mundur apa pun yang terjadi, ini sampai titik penghabisan keadilan harus ditegakkan apa pun risikonya,” tegasnya.

Kasus dugaan penipuan trading kripto mulanya dilaporkan oleh Younger.

Laporan polisi tersebut teregister dengan nomor 277/I/2026 tertanggal 9 Januari 2026.

Baca juga: Lagi, Korban Penipuan Trading Kripto Timothy Ronald Buat Laporan Polisi Usai Rugi Rp 1 Miliar

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan saat ini terlapor masih dalam penyelidikan.

"Memang ada peristiwa yang disampaikan bahwa ada investasi terkait tentang permainan saham ataupun bursa kripto, termasuk yang bersangkutan (pelapor) mengalami kerugian sekitar Rp3 miliar karena ada janji terhadap keuntungan potensi naik 300 sampai dengan 500 persen," ungkapnya kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (12/1/2026).

Menurut Kombes Budi, penyelidik aka mendalami proses-proses terkait tentang pelaporan termasuk menganalisis barang bukti. 

Pihaknya kepolisian juga akan memanggil pelapor untuk dimintai klarifikasinya atas laporan tersebut.


Duduk Perkara

Adapun laporan polisi dugaan penipuan trading kripto ini mencuat ke publik usai diunggah oleh salah satu akun instagram bernama @cryptoholic.idn.

Sama dengan keterangan pihak kepolisian, dalam unggahannya, terdapat surat laporan polisi yang menyebut sosok terlapor masih dalam lidik. 

Namun, pendiri Akademi Crypto, Timothy Ronald serta seorang trader kripto bernama Kalimasada disebut-sebut dalam laporan itu.

"Sampai saat ini belum ada respons dari @akademicryptocom Timothy Ronald maupaun Kalimasada. Akhirnya melalui movement @skyholic888, korban-korban yang selama ini mengaku takut karena diancam saat melakukan laporan polisi sekarang sudah memberanikan diri untuk melapor," tulis keterangan dalam unggahan itu.

Baca juga: Timothy Ronald Disebut Sedang di Thailand di Tengah Laporan Dugaan Penipuan Trading Kripto

Dari surat laporan itu pun dijelaskan kasus ini bermula saat para korban tergabung dalam grup Discord Akademi Crypto dan mendapat tawaran soal trading kripto.

Kemudian, pada Januari 2024, korban diberi sinyal untuk membeli koin Manta dengan janji potensi naik 300 sampai 500 persen.

"Karena percaya, korban membeli koin Manta Rp3 miliar. Namun setelah itu yang terjadi harga koin Manta turun sampai minus porto 90 persen atau tidak sesuai dengan yang dijanjikan," tertulis kronologi dalam surat itu.

Dalam laporan itu, pasal yang dilaporkan yakni Pasal 45A ayat 1 Jo Pasal 28 ayat 1 dan atau Pasal 80, 81, 82 UU Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana dan atau Pasal 492 KUHP dan atau Pasal 607 ayat 1 huruf a, b, c UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP. 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved